Karhutla Meluas di Kalimantan, Palangka Raya Alami Asap Terparah
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus melanda berbagai wilayah di Pulau Kalimantan, dengan Palangka Raya menjadi yang paling parah. Dampak karhutla meliputi kualitas udara berbahaya, gangguan jarak pandang, penyesuaian jam sekolah, dan penundaan penerbangan.
Di Kalimantan Tengah, tercatat 1.795 titik panas, termasuk 281 titik di Kota Palangka Raya. Indeks kualitas udara (AQI) di kota ini mencapai 487, masuk kategori berbahaya, dengan jarak pandang sekitar 1,4 kilometer. Pemerintah Kota Palangka Raya menunda jam masuk sekolah SD dan SMP menjadi pukul 08.00 WIB, sementara PAUD beralih ke pembelajaran jarak jauh.
Kepala Dinas Pendidikan Palangka Raya, Jayani, mengatakan, "Kondisi kabut asap yang semakin pekat memaksa kita untuk mengambil langkah taktis dan adaptif. Kesehatan siswa, guru, dan seluruh tenaga pendidikan menjadi prioritas utama, namun pembelajaran tetap harus berjalan."
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, menegaskan, "Dengan AQI mencapai 487 yang berarti kategori berbahaya, serta 281 titik panas di dalam kota, kami meminta seluruh masyarakat untuk segera meningkatkan perlindungan diri. Hindari aktivitas di luar ruangan sebisa mungkin, dan wajib gunakan masker saat harus keluar rumah."
Di Kabupaten Pulang Pisau, pemerintah mendorong pembangunan sumur bor permanen di Desa Tumbang Nusa untuk memudahkan penanganan karhutla. Bupati Ahmad Rifa'i memohon dukungan pemerintah pusat agar sumur bor tersebut dapat dibangun sebagai sumber air permanen.
"Kemarin saya secara pribadi memohon kepada Pak Menhut agar ke depannya dibantu terkait sumur bor-sumur bor untuk pencegahan. Saya berharap sumur bor itu permanen, supaya jangan sampai nanti ada api muncul lagi," ujar Ahmad Rifa'i.
Kabut asap juga menyelimuti Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, dengan jarak pandang yang terganggu di sejumlah ruas jalan, terutama di sekitar Bundaran Pangkalan Lima. Warga Evan Kurniawan mengatakan, "Kita hati-hati, takutnya yang di depan kita buru-buru dan nggak melihat. Jarak pandangnya terganggu."
Di Kalimantan Selatan, Banjarbaru menyesuaikan jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 Wita mulai 20 Agustus 2026. Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru, Abdul Basid, menyatakan, "Satuan pendidikan bisa memulai pelaksanaan pembelajaran pada pukul 09.00 Wita bagi sekolah terdampak." Tenaga pendidik tetap hadir sesuai jam kerja yang telah ditetapkan.
Polresta Banjarmasin menggelar salat Istisqa untuk memohon hujan agar karhutla segera berakhir. Kapolresta Kombes Riza Muttaqin berkata, "Secara lahir dan batin kami memohon pertolongan Allah agar diturunkan hujan yang penuh manfaat dan keberkahan." Asap juga sempat mengganggu operasional Bandara Internasional Syamsudin Noor, menyebabkan 12 penerbangan tertunda.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur, petugas dan relawan memadamkan karhutla di puluhan titik, termasuk di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyatakan, "Kondisi lapangan tidak mudah. Petugas menghadapi kendala sumber air yang jauh, keterbatasan selang, hingga gangguan pada mesin pemadam." Penanganan dilakukan di beberapa ruas jalan utama.
Seorang relawan, Rizky Mubarrak, harus mendapatkan perawatan medis di IGD RSUD dr Murjani Sampit akibat sesak napas dan kelelahan saat memadamkan api. Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengatakan kondisi Rizky sudah stabil setelah mendapat pertolongan medis.
Data BPBD Kotim hingga 19 Agustus mencatat 3.840 titik panas sepanjang tahun dengan luas lahan terbakar sekitar 1.317,15 hektare. Pemadaman dan upaya pencegahan terus dilakukan oleh aparat dan pemerintah daerah di berbagai wilayah Kalimantan hingga 20 Agustus 2026.