Danantara Selektif Pilih Proyek Investasi dan Restrukturisasi BUMN
Danantara Indonesia memberlakukan seleksi ketat dengan menyetujui kurang dari satu persen dari sekitar 1.000 proposal investasi yang masuk. Langkah ini berjalan seiring dengan rencana pemerintah melakukan perampingan besar-besaran terhadap 1.074 BUMN serta anak cucu perusahaannya menjadi sekitar 250 entitas pada akhir 2026.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa setiap investasi harus mempertimbangkan imbal hasil ekonomi, efek pengganda, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Dalam menjalankan strategi tersebut, lembaga ini lebih memprioritaskan proyek yang telah memiliki arus kas atau kontrak yang jelas.
"Balik tadi saya lihat satu dari sisi return, nomor satu economic return. Kedua kami juga pengin lihat juga jangkauannya, misalnya apakah economic multiplier buat negara kita. Dan ketiga penciptaan kerja," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia.
Pandu menambahkan bahwa penugasan pada proyek pengelolaan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE) diambil karena dampaknya yang signifikan terhadap lingkungan.
"Makanya kami berani ketika diberi penugasan mengenai WTE, karena kami menilai kebutuhannya penting dan juga menyangkut krisis lingkungan hidup yang nyata," ujar Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia.
Selain proyek domestik, Danantara juga mengalokasikan investasi pada proyek kawasan kampung haji di Makkah untuk menghasilkan arus kas berkelanjutan.
"Nah, cash flow-nya pun akan kami guna untuk membangun lagi hotel-hotel di sana," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia.
Di tingkat global, Danantara Investment Management menginvestasikan 2,5 miliar dolar AS untuk menguasai 25 persen saham joint venture operasi JBS Group di Australia dan Selandia Baru guna memperkuat rantai pasok protein nasional.
"Kami hanya mau berinvestasi di luar negeri kalau investasi itu membawa transfer of knowledge, transfer of technology, dan transfer of know-how. Itu penting karena kita beli otak, kita membeli IP," ujar Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia.
Di sisi pembenahan internal BUMN, Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menyampaikan bahwa fokus utama pemerintah saat ini tertuju pada penataan BUMN Karya dan dana pensiun.
"Menurut saya bagus ya. Tadi kita ketemu dengan seluruh redaksi media, ada pemred dan lain sebagainya. Ini akan rutin kita lakukan untuk meng-update apa yang sedang dilakukan.
Mereka sangat apresiasi, saya juga mengapresiasi. Mereka jadi tahu progresnya seperti apa, detailnya seperti apa, sejauh mana dan seberat apa yang kami kerjakan," kata Dony Oskaria, Kepala Badan Pengaturan BUMN.
Pengamatan dari pengamat ekonomi Satria Aji Imawan menyebutkan bahwa capaian laba gabungan Himbara sebesar Rp39,92 triliun pada kuartal I 2026 menjadi modal penting untuk memperkuat peran BUMN dalam menggerakkan sektor riil.
"Untuk BUMN, yang lebih tepat adalah value maximization for the state and society," kata Satria Aji Imawan, Pengamat Ekonomi.
Satria juga mengingatkan bahwa indikator keberhasilan transformasi BUMN tidak hanya diukur dari angka keuangan di atas kertas.
"Karena itu, laba seharusnya ditempatkan sebagai instrumen, bukan tujuan akhir, untuk memperbesar kapasitas negara dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat daya saing nasional, dan memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas," ujar Satria Aji Imawan, Pengamat Ekonomi.
Ia menambahkan bahwa tata kelola Danantara akan menjadi penentu utama dalam menilai kualitas pengelolaan aset publik oleh negara.
"Benchmark keberhasilan Danantara bukan hanya ukuran neraca, tapi juga perubahan kualitas tata kelola negara dalam mengelola aset publik," kata Satria Aji Imawan, Pengamat Ekonomi.
Melalui langkah konsolidasi dan efisiensi ini, pemerintah memproyeksikan penghematan biaya operasional BUMN dapat mencapai Rp70 triliun hingga akhir 2026, sementara penerimaan dividen ditargetkan menembus Rp200 triliun.