UT Bebaskan UKT Mahasiswa Terdampak Gempa NTT M 77
Universitas Terbuka membebaskan uang kuliah tunggal bagi mahasiswa yang terdampak gempa berkekuatan M 7,7 di Nusa Tenggara Timur. Kebijakan pembebasan biaya ini disampaikan pimpinan perguruan tinggi untuk meringankan beban finansial para mahasiswa korban bencana alam tersebut, dilansir dari Detikcom.
Pihak kampus saat ini berfokus melacak data mahasiswa korban gempa, khususnya pada kawasan terdampak parah seperti Maumere. Penanganan akan disesuaikan berdasarkan tingkat kerugian yang dialami masing-masing individu.
"Kita sedang mendata mahasiswa kita, terutama yang terkena dampak di wilayah Maumere dan sekitarnya. Kita segera akan dapatkan datanya dan kita akan berikan bantuan semaksimal mungkin, sesuai dengan kadar musibah yang diterima, mulai dari pembebasan UKT kemudian bantuan lainnya, dan seterusnya," kata Prof Ali Muktiyanto, Rektor Universitas Terbuka.
Selain memberikan keringanan finansial, institusi pendidikan ini menyediakan relaksasi aturan belajar seperti penyesuaian jadwal ujian akhir semester. Mahasiswa terdampak bencana diperbolehkan menunda pelaksanaan ujian tanpa kehilangan hak akademik pada semester berjalan.
"Termasuk nanti dalam hal fasilitasi dukungan pembelajaran yang spesial secara khusus kepada yang terhadap musibah, termasuk penyelenggaraan ujian. Jadi penyelenggaraan ujian boleh jadi mereka harus agak tertunda dari rekan-rekannya yang lain dan sebagainya, tapi tetap dalam semester yang sama," kata Ali.
Langkah penanganan bencana ini merupakan komitmen berkelanjutan dari pihak universitas yang pernah diterapkan pada musibah di Aceh, Nias, hingga Padang.
"Kita juga bahkan menggelontorkan tidak kurang dari empat ribu beasiswa (untuk mahasiswa) terkena bencana," ucapnya.
Guna mengantisipasi kendala teknis pascabencana seperti kerusakan jaringan internet dan jaringan listrik, perkuliahan jarak jauh disiapkan melalui skema luring.
"Ketika jaringan internet tidak bisa berfungsi dengan baik, maka kita punya pendidikan jarak jauh secara yang di-deliver secara offline," ujar Rektor UT.
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meminta seluruh perguruan tinggi berpartisipasi aktif membantu sivitas akademika maupun masyarakat umum di lokasi bencana.
"Prioritas kami saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh sivitas akademika dan menjaga agar penanganan berlangsung cepat serta terkoordinasi," ungkap Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Kementerian mengimbau kampus mendirikan posko darurat, menyediakan layanan kesehatan dan pemulihan trauma, serta menyalurkan logistik secara langsung dengan melibatkan dosen dan mahasiswa.