Pemerintah dan Polri Kirim Bantuan Bencana Gempa Flores NTT
Pemerintah Indonesia bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia mempercepat penyaluran bantuan logistik dan fasilitas kesehatan darurat bagi korban terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, hingga Kamis (20/8/2026).
Guncangan gempa bumi utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB dengan pusat gempa berjarak 30 kilometer timur laut Mbay-Nagekeo, NTT pada kedalaman tertentu. Badan Meteorologi, Climatologi, dan Geofisika sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami sebelum akhirnya dinyatakan berakhir pada hari yang sama pukul 07.31 WIB.
Dampak bencana melumpuhkan layanan di dua rumah sakit utama, yakni RS Pratama Rajad dan RS Aeramo, serta merusak bangunan tiga puskesmas. Kementerian Kesehatan menetapkan penanganan pasien melalui sistem triase sebagai prioritas utama dalam kurun tiga hingga lima hari pertama, disusul perbaikan infrastruktur dalam kurun 8 hingga 12 bulan serta program trauma healing.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa pengiriman alat medis esensial seperti mesin anestesi dan alat kauter ke rumah sakit lapangan Nagekeo dilakukan guna merespons kondisi darurat medis di lapangan, termasuk tindakan operasi sesar darurat oleh tim medis setempat.
"Waktu itu saya pertimbangkan rencana SC Cito, tapi jalur rujukan terputus. Jembatan rusak, jalan rusak," kata dr. Restu, dokter yang menangani operasi sesar darurat di lokasi bencana.
Layanan kesehatan juga difokuskan pada pemulihan kondisi mental warga melalui penyiapan konselor dan penempatan psikolog klinis secara bertahap.
"Tugas prioritas Kementerian Kesehatan saat tanggap darurat nomor satu adalah pasiennya, bukan fasilitas pelayanannya. Pasiennya nomor satu, sesudah itu baru nomor dua kita perbaiki fasilitas yang rusak," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Untuk memenuhi kebutuhan pokok, Polri mengerahkan dua armada kapal, yakni KM BIMA-7014 dan KP Pulau Padar XXII-3018, guna mendistribusikan logistik dari Dermaga Pelni Marina Labuan Bajo menuju Dermaga Reo di Kabupaten Manggarai. Bantuan logistik tersebut disiapkan melalui pengemasan sejak Senin (17/8/2026) di Gudang Bulog Labuan Bajo oleh jajaran pimpinan dan personel kepolisian setempat.
Paket bantuan mencakup 17.500 kilogram beras Bulog, 3.500 liter minyak goreng, 3.500 paket sembako berisi mi instan, kecap, teh, gula pasir, biskuit, serta 500 mainan anak. Selain itu, Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang menyalurkan bantuan berupa 10 lusin sendok makan, 10 panci, 10 wajan, dan 10 centong.
Kepala Korps Kepolisian Perairan dan Udara Irjen Pol. Raden Firdaus Kurniawan Ferry memantau langsung pemuatan barang di Labuan Bajo sebelum pengiriman dijadwalkan menuju wilayah terdampak dari Kabupaten Manggarai hingga Kabupaten Sikka.
"Polri memastikan bantuan logistik untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores dapat segera didistribusikan. Kami terus melakukan monitoring dan memastikan seluruh bantuan yang telah dikumpulkan dan dimuat ke kapal dalam kondisi siap untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan," kata Raden Firdaus Kurniawan Ferry, Kepala Korps Kepolisian Perairan dan Udara.
Sektor kepolisian menegaskan pengiriman dilakukan secara bertahap demi memastikan distribusi kebutuhan dasar berjalan tepat sasaran.
"Pendistribusian ini merupakan bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat. Bantuan akan disalurkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak, sehingga dapat diterima oleh masyarakat secara tepat sasaran," kata Raden Firdaus Kurniawan Ferry, Kepala Korps Kepolisian Perairan dan Udara.
Koordinasi dengan pihak kewilayahan terus dijalankan untuk mengantisipasi adanya kebutuhan logistik tambahan di lapangan.
"Kami juga terus berkoordinasi dengan jajaran kewilayahan dan seluruh pihak terkait untuk memastikan proses distribusi berjalan aman, lancar, dan efektif. Apabila masih terdapat tambahan bantuan, tentunya akan kami data dan distribusikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan," kata Raden Firdaus Kurniawan Ferry, Kepala Korps Kepolisian Perairan dan Udara.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sebagian warga di Kabupaten Ende masih memilih bertahan di tenda depan rumah akibat rasa takut dan trauma terhadap kemungkinan gempa susulan.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto meninjau penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, untuk mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik menghadapi kabar yang belum terverifikasi.
"Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu kedepan menurut BMKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama.
Bahkan jika ada isu akan terjadi tsunami menurut BMKG itu tidak mungkin. Ini menurut riset ilmu pengetahuan," kata Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Pemerintah meminta warga tidak menempati bangunan yang mengalami kerusakan struktur sampai dinyatakan aman oleh tim ahli.
"Kalau rumahnya rusak cukup parah, jangan masuk dulu. Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Tetapi bagi rumah yang aman dan sudah diperiksa, masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan. Tetap ikuti informasi resmi, jangan percaya pada kabar yang tidak jelas sumbernya," kata Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Pemerintah daerah bersama BMKG dan BPBD terus mengawal proses pemulihan fisik dan psikologis penyintas bencana di seluruh wilayah Flores.
"Yang kita perlukan sekarang adalah tenang dan waspada. Jangan panik, tetapi juga jangan lengah. Dengarkan informasi dari sumber resmi. Pemerintah akan terus berada di tengah masyarakat dan memastikan kebutuhan serta keselamatan masyarakat menjadi prioritas," kata Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.