Kisah Perumusan Proklamasi dan Menu Sahur Pertama di Rumah Laksamana Maeda

Share

Rumah dinas Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 Jakarta Pusat mencatatkan sejarah penting pada malam 16 Agustus hingga dini hari 17 Agustus 1945. Di lokasi tersebut, penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dilangsungkan.

Peristiwa bersejarah itu bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah. Dilansir dari Detik Travel, awal bulan Ramadan pada tahun 1945 jatuh pada 9 Agustus.

Proses perumusan teks dilakukan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo. Kegiatan ini berlangsung dalam rentang waktu yang sangat terbatas hingga sekitar pukul 03.00 WIB.

Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Fajar Sunandar, menjelaskan para tokoh mulai berkumpul di meja makan untuk menyusun teks sekitar pukul 02.00 WIB. Mayoritas tokoh yang hadir saat itu sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

"Jadi memang bener-bener waktunya itu terbatas, sangat singkat," kata Fajar kepada detikTravel, Selasa (18/08/2026).

Penyusunan naskah berhasil dirampungkan menjelang waktu Subuh di Batavia yang saat itu jatuh sekitar pukul 04.19 WIB. Setelah dirumuskan, Sayuti Melik mengetik dokumen tersebut di mesin ketik pinjaman.

Penandatanganan naskah proklamasi oleh Sukarno dan Hatta kemudian dilakukan di atas piano yang berada tidak jauh dari ruang pengetikan. Usai proses pengesahan, Laksamana Maeda memerintahkan asistennya, Satsuki Mishima, untuk menyiapkan hidangan sahur.

"Sahur pertama Indonesia merdeka itu di rumah ini juga. Jadi ada beberapa menu, yang utama itu nasi goreng," kata Fajar.

Selain nasi goreng, sajian sahur untuk puluhan tokoh yang hadir disajikan secara sederhana berupa roti dan sarden agar dapat disiapkan dengan cepat.

Laksamana Tadashi Maeda merupakan perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang merelakan kediamannya menjadi tempat perumusan dokumen kemerdekaan. Ia dikenal memiliki ketertarikan mendalam terhadap kebudayaan di Indonesia, khususnya budaya Jawa.

Istri dari Laksamana Maeda, Nishimura Fumiko, merupakan keturunan Jepang-Jawa. Faktor tersebut membuat Maeda memiliki ikatan emosional tersendiri dengan masyarakat setempat.

"Nah makanya separuh hati Bapak Maeda itu dah Indonesia sebetulnya, dia sangat suka kebudayaan Jawa," cerita Fajar.

Saat ini, bangunan yang berada di kawasan Menteng tersebut telah difungsikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Tempat ini mencatat perjuangan sekitar 40 hingga 50 tokoh bangsa yang berpacu dengan waktu di tengah situasi pendudukan Jepang sebelum akhirnya menyantap sahur bersama.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author