Bayan dan JARR Bantah Rumor Akuisisi Saham BYAN

Share

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) secara resmi membantah rumor terkait rencana akuisisi mayoritas saham BYAN oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam pada Rabu (19/8/2026). Pernyataan resmi ini langsung memicu koreksi pada harga saham kedua emiten setelah sebelumnya sempat melesat tajam.

Saham BYAN anjlok hingga menyentuh batas Auto-Rejection Bawah (ARB) sebesar 14,91 persen ke level Rp14.700 pada pra-pembukaan perdagangan Rabu. Padahal pada perdagangan sebelumnya, saham perusahaan batu bara tersebut mencatatkan kenaikan Auto-Rejection Atas (ARA) selama dua hari berturut-turut.

Klarifikasi tersebut disampaikan pihak manajemen menyusul maraknya spekulasi di pasar modal yang sempat mendongkrak pergerakan saham emiten dalam ekosistem bisnis Jhonlin Grup.

"Saat ini Perseroan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan dan/atau akuisisi saham Perseroan sebagaimana dimaksud dalam informasi yang beredar tersebut," kata Jenny Quantero, Corporate Secretary BYAN.

Manajemen BYAN menegaskan tidak ada informasi tertulis maupun tindakan korporasi yang mengarah pada pengambilalihan porsi kepemilikan saham tersebut.

"Sampai dengan tanggal surat ini, Perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan dan/atau akuisisi sekitar 62,2% saham Perseroan oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam," ujar Jenny Quantero, Corporate Secretary BYAN.

Langkah penegasan senada turut disampaikan oleh manajemen JARR melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore. Pihak JARR memastikan pemegang saham pengendali maupun penerima manfaat utama perusahaan tidak memiliki rencana aksi korporasi terhadap BYAN.

Sebelum munculnya bantahan resmi tersebut, rumor akuisisi telah memicu lonjakan harga pada sejumlah emiten yang terafiliasi dengan Haji Isam. Kenaikan drastis dicatatkan oleh JARR sebesar 24,88 persen, TEBE sebesar 22,55 persen, PGUN sebesar 19,93 persen, serta FAST yang turut meningkat 8,79 persen.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Pendiri Republik Investor Hendra Wardana menilai pergerakan tersebut mencerminkan ekspektasi tinggi pasar terhadap ekspansi kelompok bisnis tersebut.

"Hal ini kemudian membentuk persepsi di kalangan investor, setiap aksi korporasi, ekspansi, maupun akuisisi yang dilakukan kelompok usaha Haji Isam berpotensi menjadi katalis besar bagi saham-saham terkait. Efeknya, sentimen positif terhadap satu perusahaan bisa dengan cepat merembet ke perusahaan lain yang dianggap masih berada dalam satu ekosistem," kata Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal.

Kenaikan harga yang cukup tinggi dalam waktu singkat dipandang meningkatkan risiko volatilitas perdagangan saham di lantai bursa.

"Kenaikan dalam sebulan yang mencapai 94 persen pada FAST dan 65,52 persen pada TEBE juga menunjukkan, sebagian saham sudah berada dalam fase momentum yang sangat tinggi sehingga risiko volatilitasnya ikut meningkat," ujar Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal.

Meskipun rumor tersebut sempat menjadi perhatian utama para pelaku pasar, transaksi berskala besar tetap membutuhkan kejelasan struktur pendanaan agar tidak membebani arus kas maupun memicu dilusi saham publik.

"Artinya, aset, pendapatan, arus kas dan skala bisnis JARR akan berubah secara signifikan," kata Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal.

Pertimbangan analisis fundamental disarankan tetap menjadi acuan utama bagi investor di tengah pergerakan saham yang didominasi oleh sentimen harian.

"Jadi, kualitas transaksi akan sangat ditentukan oleh struktur pendanaannya dan kemampuan aset yang diakuisisi menghasilkan return yang lebih tinggi dibandingkan biaya modalnya," ujar Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal.

Secara umum, potensi pertumbuhan pada sektor sawit, pertambangan, maupun logistik pendukung tetap berprospek positif, tetapi investor diminta untuk senantiasa memperhitungkan kinerja laba aktual perusahaan.

"Artinya, cerita mengenai ekosistem Haji Isam memang menjadi nilai tambah dari sisi sentimen, tetapi tetap tidak boleh menggantikan analisis terhadap kinerja perusahaan," kata Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author