Ciri Anak Nyaman Dekat Orang Tua dan Kebiasaan Membangunnya

Share

Rasa percaya serta kenyamanan anak saat berada di dekat orang tua menjadi fondasi penting dalam proses tumbuh kembang mereka. Seperti dilansir dari HaiBunda, kondisi emosional yang aman memungkinkan anak tumbuh tanpa bayang-bayang ketakutan.

Kenyamanan tersebut tidak hanya hadir lewat ucapan atau kehadiran fisik belaka. Ikatan emosional ini terbentuk melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Terdapat sejumlah indikator perilaku yang menunjukkan Si Kecil telah merasa aman dan nyaman berada di dekat orang tuanya.

Pertama, anak akan aktif mencari kenyamanan dari orang tua saat menghadapi situasi tertekan atau merasa kesal. Mereka tanpa ragu mendekat atau meminta pelukan untuk menenangkan diri.

Riset dari jurnal Infant Behavior and Development mengonfirmasi fenomena tersebut. Hasil studi menunjukkan anak-anak cenderung mencari pengasuh utama saat sedang tertekan.

Kedua, anak mau membagikan pikiran dan perasaannya secara terbuka. Keterbukaan menceritakan kejadian di sekolah atau teman baru menandakan anak percaya orang tua tidak akan menghakimi.

Ketiga, anak tidak sungkan meminta bantuan maupun pendapat. Mereka meyakini arahan dari orang tua tidak akan mempermalukan atau menyesatkan langkah mereka.

Sebaliknya, anak yang kurang merasa aman cenderung berkembang menjadi pribadi yang terlalu mandiri karena terbiasa mengandalkan diri sendiri sejak dini.

"Anak membutuhkan rasa percaya diri yang positif, baik melalui tatapan, perkataan, tindakan, dan senyuman dari orang tua. Dengan itu, anak membentuk gambaran tentang dirinya sendiri," kata praktisi pengasuhan anak, Meri Wallace.

Meri Wallace menambahkan bahwa membantu anak membangun rasa percaya diri yang baik merupakan salah satu tantangan terbesar bagi setiap orang tua.

Keempat, anak bersedia melibatkan orang tua dalam dunianya. Mereka mau mengajak orang tua menikmati hobi bersama, seperti menonton film atau membuat kerajinan tangan.

Kelima, anak berani menyampaikan perbedaan pendapat secara sopan. Hal ini membuktikan bahwa anak merasa aman dan paham bahwa suaranya tidak akan diabaikan.

Psikolog Jim Taylor menjelaskan dampak buruk pola asuh berbasis rasa takut bagi perkembangan anak dalam jangka panjang.

"Rasa takut pada masa kanak-kanak dapat menimbulkan stres, rasa tidak aman, kecemasan, serta berbagai masalah psikologis, emosional, dan fisik lainnya di kemudian hari," ujar Taylor.

Keenam, anak tidak mengisolasi diri di kamar. Anak yang merasa kebutuhan emosionalnya terpenuhi akan lebih menikmati waktu berkumpul bersama keluarga di ruang terbuka.

Kebiasaan Sederhana Membangun Rasa Aman Anak

Orang tua dapat menerapkan beberapa langkah praktis sehari-hari guna memupuk rasa nyaman dan kedekatan emosional anak.

Langkah pertama adalah memberikan arahan dan nasihat sesuai dengan porsinya. Memberikan waktu tenang serta empati saat anak lelah sangat membantu menenangkan pikiran mereka.

"Rasa aman memberikan anak landasan yang stabil untuk memandang hubungan dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang lebih dapat diprediksi," tutur psikolog Joseph Laino.

Langkah kedua yaitu mendengarkan pendapat anak secara sungguh-sungguh. Hindari menyela, terburu-buru mengambil kesimpulan, atau mengabaikan anak karena kesibukan pekerjaan.

Langkah ketiga adalah menjadikan anak sebagai prioritas melalui tindakan nyata. Penelitian dalam jurnal Springer Nature menguraikan bahwa rasa aman tumbuh saat orang tua menyediakan lingkungan kondusif serta dukungan penuh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author