Israel Serang Pangkalan Udara Suriah Usai Temuan Rencana Turki
Jet tempur Israel menggempur Pangkalan Udara Abu al-Duhur di barat laut Suriah sebanyak delapan kali pada Selasa (18/8/2026) dini hari. Serangan mematikan yang merusak landasan pacu dan fasilitas penyimpanan ini dipicu oleh kekhawatiran Israel atas potensi pengerahan pasukan serta manuver militer Turki di lokasi tersebut.
Aksi militer ini menjangkau wilayah sekitar 70 hingga 80 kilometer dari perbatasan Turki, memicu ketegangan diplomatik tinggi antara Tel Aviv, Ankara, Damaskus, dan Washington. Fasilitas militer di antara wilayah Aleppo, Idlib, dan Hama tersebut sebelumnya telah berhenti beroperasi sejak 2012 di bawah perlindungan Kementerian Pertahanan Suriah. Syrian Observatory for Human Rights mencatat serangan terjadi setelah delegasi militer Turki berkunjung untuk meninjau pengaktifan kembali pangkalan itu.
Pemerintah Israel menegaskan bahwa operasi pengeboman tersebut merupakan langkah antisipasi keamanan nasional.
"Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil sikap yang lebih tegas guna mengakhiri eskalasi agresi Israel yang terus meningkat terhadap Suriah," ujar Kementerian Luar Negeri Turkiye.
Pihak Israel menyatakan telah berulang kali memperingatkan pemerintah Suriah terkait bahaya pengerahan pasukan asing di wilayahnya.
"Israel berulang kali memperingatkan Suriah bahwa penempatan semacam itu akan menimbulkan ancaman bagi keamanan Israel. Suriah memilih untuk mengabaikan peringatan ini," bunyi pernyataan resmi dari kantor PM Israel Benjamin Netanyahu.
Pemerintah Israel menekankan komitmennya untuk menindak tegas setiap ancaman di perbatasannya.
"Israel tidak akan menoleransi ancaman terhadap keamanannya," tambah pernyataan tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyoroti pelanggaran kesepakatan keamanan regional oleh pihak Suriah.
"Israel dan Suriah telah menyepakati status quo dalam masalah keamanan. Namun, Suriah berada di ambang pelanggaran kesepakatan tersebut dengan mengizinkan pasukan Turki dikerahkan ke sebuah pangkalan udara di dekat Aleppo," kata kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Netanyahu menambahkan bahwa pesan peringatan telah disampaikan secara langsung kepada Ankara.
"Kami menjelaskannya kepada Turki – Jangan. Rupanya mereka tidak mendengar pesan itu, jadi kami memastikan mereka memahaminya dengan lebih baik," tegasnya.
Keterlibatan mata-mata Israel juga terungkap sebelum pengeboman terjadi, ketika Kepala Mossad Roman Gofman melakukan panggilan telepon khusus dengan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani pada 14 Agustus untuk menanyakan pasokan senjata dan pengerahan drone Turki. Pemerintah Turki melayangkan penolakan keras terhadap tuduhan yang dijadikan dalih serangan udara tersebut.
"Terus bekerja sama dengan Pemerintah Suriah atas dasar yang sah untuk pembentukan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran," ungkap Kantor Kepresidenan Turki.
Langkah militer Israel turut mendatangkan kritik tajam dari Amerika Serikat yang sedang memfasilitasi dialog penurunan eskalasi.
"AS sangat prihatin bahwa serangan udara Israel yang terkonfirmasi di Pangkalan Udara Abu al-Duhur merupakan eskalasi yang tidak perlu dan tidak memajukan stabilitas regional," tulis Barrack di platform media sosial X.
Pihak Amerika Serikat meminta seluruh aktor yang terlibat untuk menahan diri dari tindakan militer.
"Kami mendorong semua pihak untuk memprioritaskan wacana yang logis daripada insiden militer lebih lanjut," tambahnya.
Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack kembali mengulang keprihatinannya terkait insiden ini.
"Serangan tersebut merupakan eskalasi yang tidak perlu dan tidak membantu menciptakan stabilitas kawasan," tulis Barrack.
Barrack menegaskan kembali pentingnya jalur diplomasi.
"Kami mendorong semua pihak untuk mengutamakan dialog yang rasional daripada insiden militer lebih lanjut," katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Tom Barrack mengomentari aksi Tel Aviv di wilayah utara Suriah.
"Eskalasi yang tidak perlu yang tidak memajukan stabilitas regional," ucapnya.
Menteri Luar Negeri Suriah Assad al-Shibani menegaskan bahwa tindakan Israel tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang pertahanan.
"Serangan-serangan ini tidak memiliki pembenaran keamanan. Kami akan melanjutkan jalur diplomatik kami untuk mencegah Israel dari kebijakan ini dan memaksanya menghentikan serangannya terhadap Suriah," tegas Shibani.
Rangkaian serangan ke pangkalan udara Abu al-Duhur memperpanjang daftar intervensi militer Israel di Suriah sejak tumbangnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024. Meskipun Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa sempat berupaya menjajaki perjanjian keamanan dengan bantuan AS, kehadiran militer Turki di wilayah utara terus menjadi titik krusial perselisihan dengan Israel.