Mengenal Penyebab Perbedaan Data Prevalensi Obesitas Indonesia

Share

Angka prevalensi obesitas di Indonesia belakangan menjadi sorotan setelah sebuah data internasional menempatkan RI di posisi keenam dengan tingkat terendah. Dalam laporan yang viral tersebut, persentase obesitas tercatat sebesar 11,52 persen. Persentase ini terlihat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan angka nasional terbaru.

Seperti dilansir dari Detik Health, perbedaan hasil tersebut memicu pertanyaan terkait keakuratan data yang beredar. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat angka prevalensi obesitas penduduk dewasa berusia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen. Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibanding periode 2018 yang sebesar 21,8 persen.

Perbedaan signifikan angka tersebut disebabkan oleh penggunaan sumber data serta kriteria indikator yang berbeda. Data 11,52 persen mengacu pada tabel World Obesity Federation (WOF) berdasarkan estimasi NCD Risk Factor Collaboration (NCD-RisC).

Metode NCD-RisC mengolah analisis prevalensi obesitas gabungan kurun waktu 1990 hingga 2022. Dalam studi internasional ini, batasan Indeks Massa Tubuh (IMT) kategori obesitas ditetapkan pada angka ≥30 kg/m². Kementerian Kesehatan melalui SKI 2023 menetapkan standar batas IMT yang berbeda. Pemerintah Indonesia menerapkan ambang batas IMT ≥27 kg/m² untuk mengategorikan obesitas pada penduduk berusia di atas 18 tahun.

Penduduk dewasa dengan rentang IMT 27 hingga kurang dari 30 kg/m² belum dihitung dalam data World Obesity Federation. Sebaliknya, kelompok rentang tersebut sudah masuk hitungan obesitas dalam SKI 2023. Penerapan ambang batas IMT yang lebih rendah secara otomatis menghasilkan kalkulasi jumlah penderita obesitas yang lebih banyak. Selain indikator berat badan, acuan kelompok umur populasi yang dianalisis juga tidak sama.

Riset NCD-RisC berfokus pada analisis populasi dewasa berusia 20 tahun ke atas. Di sisi lain, survei nasional SKI 2023 mencakup responden yang berusia mulai dari 18 tahun ke atas.

Metode Estimasi vs Survei Lapangan

NCD-RisC merupakan konsorsium peneliti internasional yang menganalisis gabungan data dari berbagai studi berbasis populasi. Lembaga ini bukan lembaga survei nasional dan tidak menerbitkan satu jurnal tunggal sebagai sumber angka.

Studi mengenai obesitas tersebut menggabungkan data dari 3.663 penelitian berbasis populasi dengan total responden sekitar 222 juta orang. Pemrosesan data menggunakan model statistik untuk menghasilkan perkiraan prevalensi di 200 negara. Hasil 11,52 persen merupakan bentuk estimasi matematis, bukan hasil pengukuran langsung di lapangan pada tahun tertentu.

Hasil analisis berbasis model statistik Bayesian hierarchical ini telah dipublikasikan di jurnal The Lancet pada 2024. Angka NCD-RisC bukan data resmi dari pemerintah Indonesia, melainkan rujukan ilmiah global untuk pemantauan antarnegara. WOF mengadopsi standar seragam IMT ≥30 kg/m² agar data seluruh dunia bisa dibandingkan secara setara.

Bila mengacu pada pemutakhiran data WOF terbaru tahun 2024, prevalensi obesitas Indonesia tercatat berada di angka 12,14 persen. Sementara itu, untuk kebutuhan pemantauan nasional, SKI 2023 dengan angka 23,4 persen tetap menjadi acuan utama.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author