Konferensi Robot Dunia 2026 Pamerkan Inovasi Industri Tiongkok

Share

Ajang Konferensi Robot Dunia 2026 resmi dibuka di Beijing pada Rabu (19/8/2026), memperlihatkan pesatnya ekspansi industri robotika Tiongkok. Pameran ini berfokus mendorong penerapan teknologi dari sekadar demonstrasi menuju dunia kerja dan pabrik.

Penyelenggara mencatat sekitar 3.000 produk dipamerkan selama acara lima hari tersebut. Jumlah perusahaan peserta melonjak 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya hingga mencapai lebih dari 300 perusahaan robotika.

Sektor robotika Tiongkok saat ini mendominasi pasar global. Berdasarkan data Morgan Stanley, Tiongkok menguasai 97 persen pengiriman robot humanoid secara global pada semester pertama tahun ini.

Pengiriman robot dari Tiongkok diproyeksikan meningkat pesat dari 12.000 unit tahun lalu menjadi 50.000 unit pada 2026. Angka tersebut diperkirakan akan menembus 446.000 unit pada 2030 mendatang.

Mantan Wakil Menteri Perindustrian Tiongkok yang kini menjabat Presiden Institut Elektronika Tiongkok, Xu Xiaolan, menyatakan industri kecerdasan terintegrasi sedang berada di fase krusial.

"Tujuan utama selama dua tahun terakhir adalah mendorong penerapan di dunia nyata," kata Xu Xiaolan, Presiden Institut Elektronika Tiongkok.

Xu menambahkan bahwa fokus aplikasi mencakup layanan publik, logistik, manufaktur, layanan kesehatan, hingga penanganan tanggap darurat.

Pebisnis utama seperti Unitree Robotics turut memanfaatkan momentum ini dengan mencatatkan saham perdana di Bursa Shanghai pada hari pembukaan. Saham produsen robot humanoid tersebut meroket 460 persen pada hari pertama perdagangan.

Di sisi lain, produsen UBTECH menghadirkan berbagai model industri untuk demonstrasi pemindahan komponen pabrik. Perusahaan tersebut juga memamerkan robot humanoid berkemampuan emosional yang siap dijual ke konsumen individual seharga 168.000 yuan atau sekitar 24.000 dolar AS.

Wakil Presiden UBTECH Robotics, Jiao Jichao, menjelaskan kemampuan robot pengasuh emosional hasil kembangan perusahaan.

"[Robot ini] dapat berbicara, membuat berbagai ekspresi wajah, memutar lehernya, dan menggerakkan tangannya," kata Jiao Jichao, Wakil Presiden UBTECH Robotics.

Meski pameran menunjukkan lompatan teknologi, para ahli menilai banyak robot humanoid masih lebih unggul sebagai penampil ketimbang pekerja praktis. Tantangan utama industri kini adalah membuktikan keandalan dan efisiensi ekonomis di lingkungan kerja nyata.

Penyelenggaraan acara ini juga berlangsung di tengah ketatnya regulasi global. Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) baru-baru ini melarang impor robot humanoid dan robot berkaki empat baru buatan luar negeri dengan alasan risiko keamanan siber.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author