Pasar Kripto Bergerak Menguat Menjelang Rilis Risalah Rapat The Fed
Pasar aset digital menguji level resistansi kunci pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026, dengan Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$64.475 menjelang rilis risalah rapat Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Berdasarkan data pasar per 19 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, harga Bitcoin menguat tipis 0,35 persen dalam 24 jam terakhir. Momen ini terjadi di tengah konsolidasi harga setelah BTC sempat terkoreksi hingga level US$63.334 pada pekan sebelumnya.
Secara tahunan, pergerakan harga Bitcoin tercatat terkoreksi sekitar 45,98 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat menembus angka di atas US$120.000 pada tahun lalu.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menjelaskan bahwa penurunan harga yang terjadi secara tahunan perlu dicermati melalui perspektif pasar yang lebih luas.
"Koreksi harga Bitcoin yang cukup dalam secara tahunan ini sebenarnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Secara teknikal, ini bukan semata-mata BTC sedang dalam tren penurunan struktural, melainkan proses normalisasi setelah euforia harga yang sangat tinggi tahun lalu," kata Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.
Proses normalisasi dan fase konsolidasi dinilai sebagai hal yang lumrah terjadi secara historis sebelum pasar menemukan titik keseimbangan harga baru. Saat ini, area US$62.000 hingga US$65.000 menjadi zona penopang utama untuk menahan tekanan jual.
"Jadi perhatian saya bukan besaran koreksinya semata, tapi apakah BTC masih mampu bertahan di atas level-level support psikologis penting," kata Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.
Para analis dan lembaga keuangan global memproyeksikan pergerakan harga Bitcoin pada paruh kedua tahun 2026 berada di rentang US$45.000 hingga US$90.000 pada skenario konservatif, serta US$95.000 hingga US$120.000 dalam skenario optimistis, bahkan berpotensi menyentuh US$150.000 pada skenario paling gairah.
"Saya pribadi tidak ingin memberi angka tunggal sebagai ‘prediksi’, karena itu bisa menyesatkan, apalagi mengingat karakter Bitcoin yang historisnya sangat volatil dan sering bergerak di luar ekspektasi mayoritas analis," kata Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.
Faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset kripto meliputi arus dana masuk produk ETF Bitcoin spot, arah kebijakan suku bunga The Fed, kondisi makroekonomi, hingga dinamika geopolitik global. Di tingkat domestik, pergerakan nilai tukar rupiah turut memengaruhi konversi harga BTC di Indonesia.
"Dalam jangka pendek, investor perlu memperhatikan kombinasi kebijakan BI dan arah komunikasi The Fed. Dua katalis moneter besar yang muncul hampir bersamaan dapat meningkatkan volatilitas pasar, terutama jika hasilnya berbeda dari ekspektasi," kata Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.
Selain Bitcoin, Ethereum tercatat berada di level US$1.915 atau naik 0,47 persen dalam sehari, namun masih tertahan di bawah area resistansi US$1.900 hingga US$1.980. Sementara itu, XRP diperdagangkan di kisaran US$0,9983, berada tepat di dekat level psikologis US$1 menjelang pengumuman kebijakan makroekonomi global.