Pemkot Jaktim Penertiban Pedagang Pasar Kramat Jati Usai Kecelakaan Maut
Pemerintah Kota Jakarta Timur mengambil langkah tegas menertibkan para pedagang di pinggir Jalan Raya Bogor, kawasan Kramat Jati, menyusul insiden kecelakaan maut yang menewaskan seorang pelajar akibat kondisi jalan licin.
Kecelakaan fatal tersebut menimpa siswa MAN 6 Jakarta Timur berinisial HH yang mengendarai sepeda motor Honda BeAt nomor polisi B-3122-SDL pada Senin (17/8) sekitar pukul 06.00 WIB, saat hendak mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 RI.
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Ojo Ruslani mengonfirmasi dugaan tujuan korban keberangkatan tersebut berdasarkan pakaian yang dikenakan saat kejadian di depan Rumah Makan Kuring, Pasar Induk Kramat Jati.
"Sepertinya begitu (korban hendak upacara HUT ke-81 RI) karena memakai seragam sekolah," kata AKBP Ojo Ruslani.
Polisi menjelaskan korban terjatuh akibat permukaan jalan yang licin, lalu dari arah bersamaan melintas kendaraan dinas kebersihan yang menabrak korban hingga meninggal dunia di tempat kejadian perkara.
"Di waktu yang bersamaan melintas kendaraan dump truck Dinas Kebersihan nopol B-9728-TOQ yang dikendarai AS, dan (korban) tergilas hingga meninggal dunia di TKP," lanjut AKBP Ojo Ruslani.
Jenazah korban kemudian dievakuasi petugas ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, sementara kendaraan roda dua milik korban mengalami kerusakan parah.
Kondisi jalanan yang rawan kecelakaan akibat licin diakui warga sekitar, Aji (41), yang menyebut insiden serupa kerap terjadi hampir setiap pekan di area Pasar Kramat Jati.
"Emang sering ada yang jatuh di sini, apalagi kalo ada pasar tumpah," kata Aji.
Aji mengungkapkan bahwa intensitas kecelakaan di jalur tersebut sangat tinggi dan sering disaksikannya secara langsung.
"Pernah (lihat) beberapa kali ya. Kayaknya hampir tiap minggu pasti ada aja yang jatuh," ucap Aji.
Ia menambahkan, keberadaan pedagang yang berjualan hingga memakan area badan jalan sejak dini hari turut memperburuk kondisi lalu lintas.
"Dari tengah malam sampai pagi pokoknya. Sampe ke pinggir-pinggir jalannya. Ke bawah trotoarnya sedikit," ujar Aji.
Lumpahan air es dari lapak dagangan basah seperti ikan dan ayam menjadi penyebab utama permukaan aspal menjadi licin dan memicu kemacetan.
"Iya (jadi licin), apalagi kan banyak yang dagang makanan kan, kayak ikan, ayam, apa pokoknya yang pake es itu. Nah dari situ biasanya airnya netes sampe jalannya basah. Bener, bikin macet juga kalau pagi," kata Aji.
Aji berharap ada penataan yang konsisten agar keselamatan pengguna jalan lebih terjamin usai adanya korban jiwa.
"Ya harapannya bisa terus tertiblah, jalan jadi nggak licin lagi. Apalagi kan ada yang sampe meninggal kemarin. Kasihan jadinya," imbuh Aji.
Keluhan serupa disampaikan warga lain, Yanto (44), yang menyebutkan permukaan jalan bisa terus licin hingga siang hari akibat aktivitas pedagang.
"Itu kan kayak pedagang ikan pada pakai es buat ngawetin. Ya di situ kali jalannya jadi licin. Kayaknya (kondisi jalan licin) ampe siang bisa itu," kata Yanto.
Yanto pun meminta pihak pemerintah bertindak bijak dengan memindahkan para pedagang ke tempat yang layak dan teratur.
"Sama buat pedagang mungkin bisa tetap tertib ya kalo dari Pemkot udah mantau mah. Ya gimana dah caranya pedagang bisa tetap dagang tapi lebih tertib. Kita kan sama-sama cari duit juga, gitu kan. Kasihan kalau misal yang biasa dagang di sini cuma ditertibin, tapi nggak dikasih tempat barunya mah," ucap Yanto.
Merespons situasi tersebut, Wali Kota Jakarta Timur Munjirin memastikan penanganan darurat telah berjalan dengan mengerahkan personel gabungan Satpol PP, Dishub, PPSU, hingga aparat kecamatan.
"Untuk penanganan darurat mulai kemarin malam sudah dikerahkan Satpol PP, Dishub, PPSU, dan aparat kecamatan dan kelurahan untuk mendorong jualannya agar jangan memakai badan jalan," kata Munjirin pada Rabu (19/8/2026).
Pemerintah setempat juga memberikan aturan khusus bagi pedagang basah guna mencegah air siraman mengalir ke lintasan kendaraan.
"Dan khusus untuk pedagang ikan untuk jangan menyiram ikan dengan air yang dibiarkan mengalir ke jalanan, tetapi air siraman wajib untuk ditampung dengan ember atau plastik," ujar Munjirin.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot Jakarta Timur dijadwalkan menggelar rapat bersama PD Pasar Jaya pada Jumat (21/8/2026) guna merelokasi pedagang ke dalam area Pasar Kramat Jati.