Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 2.325 Orang akibat Penularan Meluas
Wabah virus Ebola langka yang melanda Republik Demokratik Kongo telah menewaskan sedikitnya 2.325 orang dan kini meluas hingga ke enam provinsi. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, kondisi krisis kesehatan ini merupakan yang terburuk dari 17 gelombang wabah yang pernah tercatat di negara tersebut.
Penyebaran virus dinilai belum terkendali karena sekitar 70 hingga 80 persen kasus baru tidak memiliki hubungan penularan yang jelas dengan pasien terdampak sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa rantai penularan virus spesies Bundibugyo tersebut masih berlangsung tanpa terdeteksi di sejumlah area.
Kekhawatiran mengenai sulitnya memutus mata rantai penularan ini turut disampaikan oleh otoritas kesehatan regional yang memantau perkembangan situasi di lapangan.
"Kita masih jauh dari mengetahui besarnya wabah ini," kata Dr Wessam Mankoula, Kepala Kesiapsiagaan dan Respons Darurat Africa CDC.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa penanganan medis dan pemantauan pasien masih memerlukan waktu yang relatif lama.
"Ini tidak akan berakhir dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan," kata Mankoula.
Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat memproyeksikan wabah dapat dikendalikan dalam kurun waktu tiga bulan, pemenuhan target tersebut sangat bergantung pada ketersediaan sarana pendukung.
"Untuk rencana tiga bulan ke depan, ya, jika sumber daya yang diperlukan tersedia, saya pikir hal itu masih mungkin dilakukan," kata Thierno Balde, Incident Manager WHO.
Saat ini ketersediaan dana menjadi kendala utama, di mana WHO baru menerima sekitar 60 persen dari total dana penanganan sebesar US$ 115 juta atau setara Rp 1,8 triliun. Selain kendala anggaran, hambatan lain mencakup keterlambatan deteksi, tim pemantau yang kewalahan, konflik bersenjata, serta terbatasnya pasokan vaksin dan pengobatan.