BMKG Prediksi Musim Kemarau di Indonesia Berlangsung Hingga Oktober 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau di Indonesia akan berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026. Fenomena El Niño kuat yang memicu ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan ini diprediksi bertahan hingga awal 2027.
Perkembangan kondisi iklim menunjukkan bahwa 73,8 persen wilayah Indonesia atau sebanyak 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Selain itu, distribusi curah hujan didominasi kategori rendah dengan 76,3 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.
Penjelasan mengenai periode kemarau tersebut disampaikan langsung oleh pihak BMKG melalui konferensi pers daring di Jakarta.
"Pada umumnya musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan berakhir di sekitar pertengahan bulan Oktober," kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.
Memasuki bulan Oktober dan November, wilayah Indonesia bagian barat akan mulai memasuki musim hujan secara bertahap sebelum meluas ke Pulau Jawa.
"Bulan Oktober dan November kita mulai muncul warna kuning yang menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia mulai normal walaupun juga kita lihat di bulan November itu hujan di Pulau Jawa misalkan, masih di bawah normal, tapi hujannya sudah mulai datang dan masuk ke wilayah Jawa," tutur Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.
Puncak fenomena El Niño diproyeksikan baru terjadi pada Desember 2026, namun dampaknya pada musim hujan dinilai tidak akan terlalu signifikan.
"Dampak El Nino di Indonesia itu juga sangat bergantung dengan bagaimana kondisi panasnya laut di sekitar wilayah Indonesia.Jadi tidak serta-merta dampaknya akan persis sama dengan tahun-tahun sebelumnya," kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.
BMKG menambahkan bahwa setiap peristiwa El Niño memiliki karakteristik serta dampak iklim yang berbeda dari periode sebelumnya.
"Tidak ada satu kejadian El Nino yang selalu sama dengan El Nino tahun sebelumnya,maupun juga tidak ada dampak yang selalu sama dengan kejadian El Nino-El Nino selanjutnya," ujar Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.