Kemenperin Pacu Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional Melalui Penguatan Pasar

Share

Kementerian Perindustrian terus mendorong percepatan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) nasional. Upaya ini dilakukan dengan menyeimbangkan pengembangan sisi permintaan dan pasokan di pasar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai Indonesia memegang modal kuat untuk membangun manufaktur KBLBB. Hal tersebut dilansir dari Detik Oto pada pemaparannya terkait peta industri nasional.

Saat ini terdapat 69 perusahaan KBLBB roda dua dan tiga dengan kapasitas 2,511 juta unit per tahun. Total nilai investasi sektor ini mencapai sekitar Rp 1,2 triliun.

Penjualan sepeda motor listrik tercatat mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Angka penjualan naik dari 17.198 unit pada 2022 menjadi 62.409 unit pada 2023, lalu mencapai 77.078 unit pada 2024, sebelum terkoreksi ke 55.059 unit pada 2025.

Intervensi pemerintah melalui program bantuan pembelian periode 2023–2024 melibatkan 22 industri dan 70 model kendaraan. Penyaluran bantuan mencatatkan lonjakan 442 persen, dari 11.532 unit pada 2023 menjadi 62.541 unit pada 2024, dengan total akumulasi 74.073 unit.

"Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa stimulus pasar memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan industri kendaraan listrik roda dua. Karena itu, kebijakan pengembangan demand dan supply harus berjalan beriringan sehingga industri memiliki kepastian pasar sekaligus terpacu terus melakukan investasi dan pendalaman struktur," jelas Agus.

Sektor perakitan skala besar juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Indonesia memiliki 14 perusahaan mobil listrik berkapasitas 409.860 unit per tahun serta 10 produsen kendaraan komersial berkapasitas 7.500 unit. Keseluruhan nilai investasi perakitan nasional menyentuh Rp30,468 triliun.

"Besarnya kapasitas produksi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki fondasi manufaktur yang sangat memadai. Tantangan kita berikutnya adalah memastikan pasar tumbuh secara berkelanjutan, utilisasi kapasitas produksi meningkat, dan pada saat yang sama struktur industri semakin dalam melalui penggunaan komponen buatan dalam negeri," ujar Agus.

Pertumbuhan ekosistem ini tecermin dari lonjakan populasi KBLBB nasional yang menembus 468.231 unit hingga April 2026. Kelompok roda dua mendominasi sebesar 242.909 unit, disusul mobil penumpang sebanyak 223.100 unit. Secara keseluruhan, pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) populasi KBLBB melampaui 150 persen selama 2020–2025.

Menperin menegaskan bahwa kenaikan tren permintaan pasar harus diimbangi oleh kesiapan rantai pasok lokal. Langkah ini krusial untuk memastikan dampak ekonomi mengalir optimal ke industri domestik.

"Kita ingin setiap peningkatan penggunaan kendaraan listrik memberikan multiplier effect sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional. Artinya, semakin banyak kendaraan listrik digunakan masyarakat, semakin besar pula komponen yang diproduksi di Indonesia, investasi yang masuk, teknologi yang kita kuasai, serta aktivitas industri yang tumbuh di dalam negeri," ungkapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author