IHSG Melemah 0,86 Persen Terdorong Saham KFC dan BYAN Turun

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,86 persen ke posisi 6.394,12 pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026, setelah sempat menguat di awal sesi perdagangan.

Menurut data RTI Business, volume perdagangan mencapai 36 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 14,27 triliun dan frekuensi transaksi 2.202.009 kali. Indeks LQ45 juga turun 0,56 persen ke level 627,468.

Meski turun hari ini, IHSG masih menguat 2,01 persen dalam sebulan terakhir, namun secara kumulatif tahun ini melemah 26,05 persen, menurut data Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Fast Food Indonesia Tbk (pengelola KFC Indonesia) menjadi penekan utama dengan penurunan auto reject bawah (ARB) 14,72 persen ke harga Rp 452 per saham.

Kemudian saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga melemah tajam 9,41 persen ke harga Rp 15.650 per saham, menjadi salah satu kontributor terbesar penurunan IHSG hari ini.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan saham BYAN longsor 14,04 persen ke Rp 14.850 pada pagi hari, setelah dua hari sebelumnya naik hampir 20 persen, akibat rumor akuisisi saham pengendali yang kemudian dibantah manajemen BYAN.

Manajemen BYAN menyatakan, "Perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan atau akuisisi sekitar 62,2% saham BYAN oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi dengannya," menurut CNBC Indonesia.

Pada saat yang sama, investor menunggu keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan hari ini terkait suku bunga acuan BI Rate.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG akan bergerak terbatas dan cenderung sideways antara 6.400-6.500, karena investor menunggu sinyal kebijakan moneter BI.

"IHSG diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 6.400-6.500 pada perdagangan Rabu," ujar Ratna Lim, dikutip Kompas TV.

Pasar juga mencermati potensi dampak kenaikan harga minyak global dan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta beberapa negara lain yang menekan pasar saham global, termasuk Indonesia.

Sentimen negatif terhadap sektor energi tercermin dari penurunan sektor energi sebesar 5,71 persen yang menjadi pemberat IHSG hari ini, menurut data CNBC Indonesia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author