Dokter Meta Hanindita Rilis Buku Soal Mitos Parenting
Dokter spesialis anak Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A, Subsp. N.P.M.(K) merilis buku berjudul Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak, dan Remaja untuk membantu orang tua menyaring informasi kesehatan anak, dilansir dari HaiBunda.
Peluncuran buku ke-11 dari seri Mommyclopedia ini dilatarbelakangi oleh maraknya kepercayaan lokal serta kebiasaan turun-temurun di masyarakat yang dinilai kurang tepat secara medis. Proses penulisan karya terbaru ini diselesaikan dalam waktu cukup singkat, yakni sekitar satu setengah bulan.
Gagasan awal penyusunan buku tebal ini berawal dari diskusi bersama seorang rekan yang menyarankan pembuatan panduan komprehensif mengenai tumbuh kembang anak usia 0 hingga 18 tahun.
"Kenapa akhirnya bikin buku ini? Sebetulnya jujur karena sudah mati gaya. Setelah menulis 10 buku sebelumnya, saya tuh sempat berpikir kok kayaknya sudah semua topik dieksplorasi, enggak tahu lagi mau nulis apa.
Sampai akhirnya ngobrol dengan salah satu teman yang kebetulan anaknya tuh ikut bertumbuh dan berkembang bersama seri Mommyclopedia," kata dr. Meta pada Kamis (13/8/2026).
Proses inventarisasi masalah dilakukan melalui pengumpulan pertanyaan para orang tua di media sosial yang kemudian diselaraskan dengan basis ilmiah serta literatur medis terkini.
"Nah, teman saya tuh bilang bahwa, 'Kenapa kamu enggak bikin satu buku khusus yang membahas soal mitos dan fakta mulai dari bayi sampai dengan remaja'. Mengingat kompetensi dokter spesialis anak itu dari usia 0 sampai dengan 18 tahun. Nah, terus setelah dipikir-pikir, benar juga ya, apalagi kan kita nih tinggal di lingkungan yang masih banyak banget percaya dengan mitos. Akhirnya itu menjadi motivasi," sambungnya.
Meskipun terdapat ribuan isu yang terkumpul, tim penyusun memutuskan untuk membatasi isi materi agar tidak menyulitkan pembaca saat mencerna informasi.
"Proses pembuatannya enggak terlalu lama, mungkin sekitar satu setengah bulan penulisannya. Cara menentukan mitos dan fakta yang meharus ditulis itu dilihat dari berbagai pertanyaan orang tua. Biasanya saat saya membuka kesempatan untuk Q&A di Instagram atau di media sosial lainnya, semua pertanyaan-pertanyaan tersebut saya kumpulkan.
Kemudian dicari basis ilmiahnya, datanya seperti apa, literaturnya bagaimana, kemudian dituliskan," ungkap dr. Meta.
Meta menjelaskan bahwa budaya serta dukungan dari lingkungan sekitar sering kali memperkuat penyebaran mitos pengasuhan anak di tengah masyarakat.
"Untuk pemilihan mitos-mitos, sebetulnya awalnya itu enggak 600 mitos, maunya lebih dari itu karena memang yang terkumpul lebih banyak. Tapi akhirnya terpilih 600 supaya buku yang tertulis jadi tidak terlalu tebal dan bikin pembaca overwhelming," lanjutnya.
Salah satu kekeliruan yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) secara dini pada bayi usia muda akibat dorongan keluarga.
"Tidak bisa dipungkiri di Indonesia ini support system yang ada pada saat kita membesarkan anak adalah keluarga terdekat. Bukan hanya keluarga, kadang-kadang tetangga dan relasi. Ada kebiasaan atau budaya turun-temurun bahwa ada kepercayaan tertentu yang sangat mereka yakini saat membesarkan anak," ujar dr. Meta.
Kondisi tersebut sering memicu salah kaprah yang berisiko mengganggu pola pemenuhan nutrisi dan tumbuh kembang fisik anak.
"Contohnya, MPASI boleh kok diberikan di usia 40 hari saat bayi menangis terus atau mungkin karena ASI-nya enggak cukup. Ini para tetua, entah tetangga, bude, nenek, atau kakeknya pasti akan bilang, 'Kamu saja dulu dikasih makan umur 40 hari. Buktinya baik-baik saja'.
Nah, inilah yang kemudian dipercaya dan berkembang menjadi mitos. Akibatnya mitos-mitos ini ya semakin mengakar, semakin meluas, semakin semua orang jadi tahu dan akhirnya mengikuti mitos-mitos tersebut," lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa pergeseran tren informasi di era digital membuat bentuk mitos menjadi makin terselubung dan makin sulit dibedakan oleh awam.
"Apalagi zaman sekarang ada banyak sekali sumber informasi yang bisa didapatkan dengan sangat mudah dan cepat, misalnya di media sosial. Jadi agak berbeda nih, kalau dulu mitosnya sudah sangat terlihat enggak masuk akal, tapi semakin ke sini mitosnya semakin bias," tuturnya.
Dokter spesialis lulusan Universitas Airlangga ini juga menyoroti bahaya pemahaman yang keliru mengenai kondisi stunting pada anak.
"Stunting itu adalah kondisi pendek karena kekurangan gizi secara berkepanjangan atau kronis. Nah, stunting ini bukan hanya menyebabkan anak menjadi pendek, tetapi juga bisa mengakibatkan gangguan kognitif, penurunan IQ, performa akademik saat anak bersekolah, hingga penurunan produktivitas kerja ketika anak sudah dewasa," ujar dr. Meta.
Penanganan yang tertunda akibat mempercayai mitos dapat memicu dampak negatif jangka panjang yang merugikan kualitas hidup anak di masa depan.
"Artinya, dampak negatif stunting ini bukan hanya dirasakan saat itu saja, tapi bahkan bisa seumur hidup. Nah, kalau memang bisa diperbaiki secepat mungkin atau begitu anak terdiagnosis stunting, maka hasilnya tentu akan jauh lebih baik daripada tidak diintervensi sama sekali. Sayangnya masih banyak mitos-mitos terkait stunting ini yang beredar di orang tua yang bilang kayak, 'stunting enggak apa-apa, yang penting anaknya pintar dan aktif. Itu adalah mitos-mitos yang menurut saya berbahaya," lanjutnya.
Orang tua diimbau untuk selalu memeriksa keabsahan informasi kesehatan melalui kanal resmi organisasi profesi sebelum menerapkannya pada anak.
"Saya berharap orang tua bisa lebih selektif lagi dalam memilih mempercayai informasi. Karena saya tahu, di era digital seperti saat ini, sumber informasi ada banyak sekali, tinggal klik langsung keluar semuanya. Tapi tidak semua informasi tersebut adalah benar," kata Meta.
Verifikasi kepada dokter atau tenaga medis ahli menjadi langkah krusial guna menghindari penanganan yang salah akibat paparan informasi hoaks.
"Pastikan sumber informasinya valid, bisa dicek di berbagai akun yang official dari banyak organisasi profesi kesehatan, entah di Indonesia dan di dunia. Sebelum benar-benar mempercayai satu informasi, check and re-check terus. Kalau perlu tanyakan langsung ke ahlinya.
Kalau memang sudah valid, barulah orang tua bisa memutuskan apa yang akan dilakukan kepada anaknya dari sumber informasi tersebut. Tapi kalau enggak yakin, tanyakan dulu. Selalu usahakan adanya konfirmasi dan klarifikasi."
Kecintaan Meta terhadap dunia literasi medis berakar dari kegemarannya membaca buku sejak kecil yang didukung penuh oleh sang ibu.
"Kayaknya karena Mama, dari kecil aku sudah suka baca, tapi suka enggak terima dengan ending cerita di buku. Mama akhirnya bilang, 'Ya sudah, kalau mau ending-nya begitu, kamu saja yang bikin sendiri'," kata dr. Meta.
Aktivitas menulisnya terus berkembang hingga pernah berprofesi sebagai jurnalis lepas semasa kuliah sebelum aktif mempublikasikan belasan buku panduan kesehatan.
"Dari situ aku bikin-bikin sendiri ending ceritanya, sampai ada banyak tulisan-tulisan, dan itu dikirim Mama aku ke majalah anak," sambungnya.
Pengalaman menulis secara konsisten sejak muda membentuk pemahaman mendalam mengenai pentingnya penyampaian materi medis yang mudah dipahami.
"Aku tahu bahwa ini tuh menyenangkan jadi bisa belajar banyak," ungkap Meta.
Dalam mengatur kesibukan harian antara profesi dokter, penulis, dan ibu rumah tangga, Meta menerapkan penentuan skala prioritas yang ketat.
"Kayaknya sudah terbiasa membagi waktu dari kecil. Kalau kata Mama aku, aku dari kecil itu kalau tidak dikasih kegiatan, tidak bisa diam," kata dr. Meta.
Dokter konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik ini menempatkan urusan keluarga sebagai prioritas utama di atas seluruh jadwal pekerjaan profesionalnya.
"Dari situ akhirnya jadi muncul skill buat manage waktu dan energi dengan baik, plus juga bisa menentukan skala prioritas. Kayak misalnya, keluarga nomor satu, terus nomor duanya pekerjaan aku sebagai dokter. Kalau sewaktu-waktu ada hal yang membutuhkan perhatian, aku akan balikin lagi ke skala prioritas," lanjutnya.