BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga Acuan 5 Komma 75 Persen pada RDG Agustus 2026
Permata Institute for Economic Research dan LPEM FEB UI memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur yang diumumkan Rabu, 19 Agustus 2026. Keputusan ini didorong oleh penurunan inflasi Juli 2026 menjadi 2,88 persen serta stabilnya arus modal asing.
Suku bunga acuan berada di level 5,75 persen setelah BI menahannya pada RDG 21-22 Juli 2026. Sepanjang 2026, BI telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali dari 4,75 persen pada Januari-Maret, menjadi 5,25 persen pada Mei, hingga mencapai 5,75 persen pada Juni.
| Periode | Suku Bunga (BI-Rate) | Status Kebijakan |
|---|---|---|
| Januari-Maret 2026 | 4,75% | Ditahan |
| Mei 2026 | 5,25% | Naik 50 bps |
| Juni 2026 | 5,75% | Naik 2x total 50 bps |
| Juli 2026 | 5,75% | Ditahan |
| Agustus 2026 (Proyeksi) | 5,75% | Diproyeksi Ditahan |
Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan sejumah indikator global dan domestik yang menjadi dasar pertimbangan proyeksi tersebut.
"Ke depan, kami masih melihat di sisa tahun 2026, BI akan cenderung mempertahankan BI-Rate meski kami tidak me-rule out kemungkinan naik jika kondisi global secara tak terduga memburuk sangat signifikan," kata Faisal Rachman, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank.
Faisal menambahkan stabilitas didukung oleh melandainya inflasi AS, pasar tenaga kerja global yang melambat, serta penahanan suku bunga acuan The Fed di level 3,50 hingga 3,75 persen pada akhir Juli. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga dinilai relatif terkendali.
Di tingkat domestik, dinamika pasar keuangan sempat diwarnai pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo pada 27 Juli 2026. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti kemudian ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas untuk menjamin keberlanjutan kebijakan.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai masa transisi kepemimpinan bank sentral tersebut dapat diterima dengan baik oleh pasar keuangan.
"Kombinasi dari kebijakan The Fed untuk menahan suku bunga acuannya dan pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia yang berlangsung cukup mulus memicu terjadinya arus modal masuk ke Indonesia," kata Teuku Riefky, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI.
LPEM FEB UI mencatat adanya arus modal asing masuk sebesar 0,28 miliar dolar AS sejak akhir bulan lalu hingga 13 Agustus 2026. Arus modal tersebut terdiri dari 0,24 miliar dolar AS ke surat berharga pemerintah dan 0,04 miliar dolar AS ke pasar modal.
Masuknya dana asing menekan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun turun 11 bps menjadi 7,21 persen, sedangkan tenor 1 tahun turun 25 bps menjadi 6,65 persen. Nilai tukar rupiah juga tercatat menguat 1,11 persen ke level Rp17.876 per dolar AS.
Atas dasar perkembangan variabel makroekonomi tersebut, LPEM FEB UI merekomendasikan agar otoritas moneter tidak terburu-buru mengubah arah kebijakan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026.
"Oleh karena itu, Bank Indonesia sebaiknya menahan suku bunga acuannya di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang guna menjaga ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan di masa mendatang. Mempertahankan suku bunga tersebut juga akan menghindari penambahan tekanan yang tidak perlu terhadap sektor riil, karena hal itu akan meningkatkan biaya pendanaan," kata Teuku Riefky, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI.
Stabilisasi BI-Rate dan potensi penurunan yield obligasi juga direspon oleh pelaku pasar modal. PT Trimegah Asset Management mencatat produk Trimegah Dana Obligasi Nusantara (TDON) membukukan return 6,47 persen dalam satu tahun terakhir hingga 13 Agustus 2026, dengan dana kelolaan melebihi Rp170 miliar per akhir Juli 2026.