Yield Obligasi AS Melonjak Capai Level Tertinggi Sejak 2007

Share

Pasar keuangan global kembali bergejolak setelah imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat Treasury tenor 30 tahun melambung hingga menyentuh level 5,32 persen pada pertengahan Agustus 2026. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi sejak 2007 akibat lonjakan harga energi, defisit fiskal, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Eskalasi konflik terjadi menyusul lonjakan harga minyak mentah Brent ke kisaran 91 dolar AS per barel. Tekanan pasar kian meningkat pasca munculnya laporan penyitaan kapal tanker di Selat Hormuz serta pernyataan bernada ancaman dari Presiden AS Donald Trump terkait situasi wilayah tersebut.

Di pasar domestik, lonjakan yield global turut mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun dari 7,062 persen menjadi 7,1 persen pada 18 Agustus 2026. Meski harga obligasi tertekan, kondisi pasar Indonesia dinilai masih relatif stabil dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 0,75 persen ke posisi 6.449,83 dan nilai tukar rupiah yang bertahan di level Rp17.819 per dolar AS.

Tekanan geopolitik dan ancaman inflasi tinggi memicu penguatan yield obligasi jangka panjang di berbagai negara. Pelaku pasar kini tengah menantikan keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait arah suku bunga acuan BI Rate yang diperkirakan bertahan di level 5,75 persen.

Untuk menghadapi volatilitas pasar dan mode risk off global, instrumen reksa dana pasar uang dapat dimanfaatkan untuk menjaga likuiditas jangka pendek. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap berdurasi pendek serta emas disarankan sebagai langkah diversifikasi portofolio secara bertahap.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author