Mengungkap Kisah Mesin Tik Pinjaman Naskah Proklamasi
Dokumen sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata diketik menggunakan mesin ketik pinjaman. Seperti dilansir dari Detik Travel, peralatan sederhana tersebut menjadi saksi penting lahirnya teks bersejarah bangsa. Peristiwa pengetikan tersebut berlangsung di kediaman Laksamana Tadashi Maeda.
Rumah yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, kini difungsikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Para tokoh bangsa berkumpul di kediaman perwira Angkatan Laut Jepang tersebut pada malam menjelang pembacaan proklamasi. Soekarno, Mohammad Hatta, serta Ahmad Soebardjo merumuskan draf teks kemerdekaan di sana.
Masalah muncul saat naskah selesai dirumuskan dan hendak diketik. Mesin ketik yang tersedia di rumah Laksamana Maeda ternyata menggunakan karakter huruf kanji.
Perangkat tersebut tidak dapat dipakai untuk mengetik alfabet Latin. Pengaturan jenis huruf pada mesin ketik masa itu tidak bisa diubah dengan mudah seperti papan ketik modern. Satsuki Mishima kemudian diutus untuk mencari mesin ketik berhuruf Latin. Ia merupakan asisten Laksamana Maeda yang mengurus keperluan rumah tangga di kediaman tersebut.
Mishima mendatangi kantor militer Angkatan Laut Jerman di Jakarta. Kantor tersebut saat itu berada di bawah pimpinan Mayor Hermann Kandeler. Mesin ketik berhuruf Latin berhasil dipinjam dari markas Jerman tersebut. Uniknya, pemilik alat tidak menyadari perangkatnya dipakai untuk menyusun dokumen kemerdekaan Indonesia.
Tugas mengetik draf proklamasi diserahkan kepada Sayuti Melik. Teks hasil ketikannya menjadi naskah resmi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945. Keberadaan mesin ketik asli tersebut kini menjadi misteri.
Pihak Indonesia maupun Jerman sama-sama tidak mengetahui keberadaan fisik alat bersejarah itu. Hal tersebut disampaikan oleh Fajar Sunandar selaku edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Menurutnya, identifikasi fisik alat sangat sulit dilakukan.
"Hingga sekarang kita juga tidak tahu mesin ketiknya itu yang mana gitu yang dulu digunakan untuk mengetik naskah proklamasi intinya sih pihak Jerman juga tidak tahu kemudian kita juga sama tidak tahu jadi kalaupun misalkan mesin ketiknya saat ini masih ada di Jerman sana kita juga akan kesulitan ya mengidentifikasi mesin ketik," ujar Fajar.
Pengelola museum akhirnya memajang replika yang serupa. Alat pengganti tersebut disesuaikan dengan tipe mesin ketik Angkatan Laut Jerman pada era perang. Satsuki Mishima sendiri saksi penting suasana malam perumusan tersebut.
Pada 1985, ia memberikan kesaksian sejarah kepada tim kajian pendirian museum. Sementara itu, Sayuti Melik memiliki nama asli Mohamad Ibnu Sayuti. Sosok yang lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 22 November 1908 ini merupakan wartawan sekaligus aktivis.
Kiprahnya di dunia pers membuat Sayuti berulang kali dipenjara oleh pemerintah kolonial. Pengalaman jurnalistik membawanya terlibat langsung dalam momen penting kemerdekaan Indonesia.