Harga Emas Dunia Anjlok ke Level US$ 4.329 Per Troy Ons
Harga emas dunia bergerak melemah ke level US$ 4.329,05 per troy ons pada Rabu (19/8/2026) setelah sebelumnya sempat jatuh hingga 1,85 persen pada perdagangan Selasa (18/8/2026).
Penurunan tajam tersebut dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) Treasury Amerika Serikat ke level tertinggi dalam beberapa dekade serta lonjakan harga energi akibat gejolak konflik AS-Iran.
Kenaikan harga energi dan biaya pinjaman jangka panjang memperkuat kekhawatiran inflasi, sehingga menekan emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil bunga.
Di sisi lain, indeks dolar AS sempat tertekan ke level 99 yang memicu penguatan harga emas ke posisi US$ 4.421,57 per troy ons pada Selasa pagi sebelum akhirnya berbalik anjlok.
Wakil Presiden sekaligus Analis Logam Senior Zaner Metals, Peter Grant, memberikan analisis terkait kondisi pasar terkini.
"Pasar emas tampaknya sedang memperhitung lingkungan stagflasi, dengan pasar tenaga kerja yang melemah dan ekspektasi bahwa The Fed akan mentoleransi tingkat inflasi saat ini," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities.
Analis tersebut menambahkan penjelasannya mengenai pergerakan mata uang pendorong utama pasar.
"Faktor besar di sini adalah dolar AS telah melemah ke level 100 yang secara psikologis penting," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities.
Di tengah tekanan yield obligasi, para pelaku pasar tetap mencermati prospek pergerakan logam mulia ke depan.
"Meski harga emas saat ini mengalami koreksi, kami tetap bullish terhadap emas dan melihat masih ada potensi kenaikan. Namun, pasar mungkin perlu melewati periode konsolidasi terlebih dahulu sebelum minat beli kembali muncul," tutur Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Analis Logam Senior Zaner Metals.
Berdasarkan analisis Bank of America, aktivitas transaksi investor saat ini lebih mencerminkan kisaran harga emas di tingkat US$ 4.000 per troy ons.
"Aktivitas pembelian investor saat ini lebih konsisten dengan harga emas yang berada di kisaran US$ 4.000 per troy ounce dibandingkan US$ 5.000," ujar Analis Bank of America.
Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve bergeser seiring rilis data ketenagakerjaan AS yang melambat. Alat CME FedWatch mencatat probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di angka 33 persen.
Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama setelah negosiasi diplomasi tidak menunjukkan perkembangan positif.
"Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya jika upaya diplomasi dengan Amerika Serikat gagal," kata Pejabat Senior Iran.
Selain faktor geopolitik dan makroekonomi, tren akumulasi emas oleh bank sentral global mencatatkan total pembelian mencapai 530 ton sepanjang semester I 2026. Bank sentral Polandia dan China menjadi pembeli terbesar dalam periode tersebut.
Di pasar komoditas turunan, harga perak spot ikut melemah ke posisi US$ 63,19 per troy ons pada Rabu, mengikuti pergerakan emas. Sementara itu, indeks IHSG ditutup rebound ke level 6.401,89 dan yield SBN 10 tahun melandai ke 7,06 persen.