BMKG Memprediksi Puncak Musim Kemarau 2026 Terjadi pada Agustus
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi mayoritas wilayah Indonesia akan menghadapi puncak musim kemarau 2026 pada Agustus. Dikutip dari Detikcom, fenomena El Niño yang tengah berlangsung berpotensi membuat kondisi cuaca terasa lebih kering serta memperpanjang durasi musim panas dari kondisi normalnya.
Musim kering tahun ini secara umum dimulai sejak April, dengan periode puncak yang terentang dari Juli hingga September 2026. Kehadiran El Niño membuat masa transisi musim bergeser dari yang biasanya selesai pada Oktober menjadi lebih panjang.
BMKG memperkirakan periode kemarau secara keseluruhan di Indonesia baru akan berakhir pada pertengahan sampai akhir November 2026. Kondisi atmosfer regional masih terus dipengaruhi oleh dinamika iklim global yang menahan pembentukan uap air.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memberikan penjelasan mengenai daya tahan fenomena ini melalui laman resmi BMKG.
"BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," kata Ardhasena Sopaheluwakan.
Rincian Durasi Kemarau per Wilayah
Berdasarkan data pemutakhiran BMKG per Juni 2026, rentang waktu musim kering di berbagai daerah mencatatkan variasi yang cukup signifikan:
- Sumatera: 3-28 dasarian (30-280 hari)
- Jawa: 11-30 dasarian (110-300 hari)
- Kalimantan: 4-18 dasarian (40-180 hari)
- Sulawesi: 5-28 dasarian (50-280 hari)
- Maluku Utara, Maluku, dan Pulau Papua: 3-23 dasarian (30-230 hari)
Atmosfer Kering dan Imbauan Hemat Air
Laporan Prakiraan Cuaca Periode 14-20 Agustus 2026 mencatat sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia resmi memasuki musim kering. Kombinasi El Niño berkategori sangat kuat dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif memicu minimnya pasokan uap air di udara.
Meski atmosfer cenderung kering, pembentukan hujan lokal tetap berpeluang terjadi di beberapa daerah. Wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, hingga Papua Pegunungan masih berpotensi diguyur hujan akibat dinamika atmosfer lokal.
Guna mengantisipasi dampak kekeringan yang meluas, masyarakat beserta pemerintah daerah dianjurkan untuk lebih bijak menghemat air. BMKG juga mengingatkan publik agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Masyarakat diminta untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan di area rawan seperti lahan gambut dan semak belukar. Pembaca yang menemukan indikasi kemunculan titik api (hotspot) diimbau untuk segera melapor kepada pihak berwenang.