BNPB Siapkan Bantuan Perbaikan Rumah Korban Gempa NTT 2026

Share

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan bantuan perbaikan rumah bagi warga terdampak gempa bumi Magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Agustus 2026.

Bantuan diberikan berdasarkan tingkat kerusakan rumah, mulai dari Rp 15 juta untuk rumah rusak ringan hingga Rp 30 juta bagi rumah rusak sedang, sementara untuk rumah rusak berat disiapkan hunian sementara dan hunian tetap.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, "Rusak ringan akan menerima 15 juta rupiah, rusak sedang 30 juta rupiah, dan yang rusak berat misal rumahnya hancur akan dibangunkan hunian sementara untuk tempat tinggal sambil menunggu hunian permanen, hunian tetap dibangun atau diberikan dana tunggu hunian."

Ia menjelaskan, warga dengan rumah rusak berat dapat memilih menerima dana tunggu hunian sebesar Rp 600 ribu untuk sewa rumah atau menempati hunian sementara (huntara) selama menunggu hunian tetap dibangun.

Suharyanto menegaskan pentingnya proses pendataan dan verifikasi yang akurat untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Ia meminta organisasi perangkat daerah memperkuat sinergi agar pendataan berjalan cepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Pendataan harus menjadi perhatian bersama. Kita ingin memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan sesuai dengan kondisi kerusakan rumahnya," ujar Suharyanto.

Pemerintah juga mengerahkan Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Hatta untuk mendistribusikan logistik bantuan ke Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

KRI Bung Hatta membawa paket bantuan Presiden RI, sembako, serta tenda keluarga dan tenda pengungsi dari BNPB dan donasi masyarakat, yang didistribusikan melalui pelabuhan laut untuk mempercepat pengiriman.

Berdasarkan data terbaru, Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi wilayah terdampak dengan jumlah korban jiwa dan pengungsi tertinggi. Di Manggarai tercatat 27 meninggal dan 6.487 pengungsi, sedangkan di Manggarai Timur 25 meninggal dan 15.465 pengungsi.

Selain itu, BMKG mencatat hingga 19 Agustus 2026 pukul 06.00 WITA terjadi 2.768 gempa susulan setelah gempa utama Magnitudo 7,7, dengan gempa susulan terbesar Magnitudo 6,2.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyasmata mengatakan, "Total gempa bumi susulan hingga tanggal 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA, sebanyak 2.768 kejadian. Magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1."

Arief menyebutkan 24 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5 dan 81 gempa dirasakan masyarakat. Aktivitas gempa susulan ini masih fluktuatif dan diperkirakan stabil dalam dua sampai tiga minggu ke depan.

Direktur Operasi Basarnas Laksma TNI Yudhi Bramantyo menyampaikan data terbaru korban gempa hingga hari ketiga, dengan total 202 orang, terdiri atas 70 meninggal dan 132 luka-luka, termasuk 40 luka berat dan 92 luka ringan.

Petugas masih melakukan penyisiran lokasi terdampak untuk memastikan penanganan darurat berjalan maksimal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author