Lee Jae Myung Tegaskan Aliansi AS Saat Trump Pangkas Latihan Militer
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan krusialnya aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat pada Selasa (18/8/2026), menyulut respons atas perintah Presiden AS Donald Trump yang memangkas latihan militer bersama Washington-Seoul, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Keputusan sepihak tersebut diumumkan Trump pada Minggu (16/8/2026) dengan alasan anggaran dan penolakan Seoul membantu operasi AS-Israel di Iran, kendati latihan Ulchi Freedom Shield selama 11 hari tetap dimulai sesuai rencana pada Senin (17/8/2026). Dalam rapat kabinet, Lee menegaskan bahwa stabilitas dan keamanan nasional Korea Selatan sangat bergantung pada kokohnya kemitraan strategis bersama pihak Washington.
"Ketika kita membangun kekuatan kita, nilai dan pentingnya kita sebagai sekutu akan semakin besar," kata Lee.
Pihak istana kepresidenan menyatakan bahwa agenda latihan militer murni bersifat pertahanan tanpa niat memprovokasi pihak luar. "memperlakukan entitas tertentu sebagai musuh, melainkan melindungi kehidupan sehari-hari masyarakat yang aman dan damai," kata Lee.
Dukungan terhadap keberlanjutan kerja sama trilateral turut disuarakan oleh Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi pada Selasa saat bertandang ke Australia. "Ketika Jepang menghadapi lingkungan keamanan paling serius dan kompleks di era pascaperang, kerja sama antara Jepang, Amerika Serikat dan Korea Selatan sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas kawasan," kata Koizumi.
Pengurangan skala latihan militer tersebut dipicu oleh kekecewaan Trump terhadap keengganan pihak Seoul memberikan bantuan militer di kawasan Timur Tengah. "Tunggu sebentar. Kami memiliki 39.000 tentara di sana, menjaga kalian dari Kim Jong Un, tetangga kalian, dan kalian tidak akan membantu kami dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran.
Itu aneh," kata Trump. Di samping persoalan militer, Trump juga mengklaim komunikasi diplomasi dengan pemimpin Korea Utara berlangsung sangat positif pada Senin (17/8/2026).
"Ya, dia sudah," kata Trump.
Trump memuji respons Kim Jong Un yang dinilainya selalu menunjukkan sikap saling menghormati selama menjalin hubungan bilateral. "Saya sebenarnya membuat situasinya jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat," kata Trump. Ia menambahkan bahwa pemahaman personal antara kedua pemimpin menjadi kunci utama diplomasi tersebut.
"Saya memahami dia. Dia memahami saya," kata Trump.
Menanggapi klaim tersebut, perwakilan Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan keterbatasan dalam mengonfirmasi rincian komunikasi kedua tokoh. "Saluran komunikasi antara kedua pihak memang ada, tetapi kami tidak dapat memverifikasi isi spesifik dari pertukaran tersebut," kata seorang juru bicara kementerian.
Kritik tajam mengalir dari dalam negeri AS, termasuk Senator Demokrat Jack Reed yang menilai kebijakan Trump dapat melemahkan kepercayaan para sekutu di Asia Timur. Pengamat politik dari Ewha University, Leif-Eric Easley, turut menyoroti cara pandang transaksi pragmatis yang diterapkan dalam kebijakan luar negeri Trump.
"Trump memandang aliansi sebagai investasi yang seharusnya memberikan dividen secara rutin, atau dana cadangan yang bisa ditarik ketika proyek lain tidak berjalan baik," kata Easley. Saat ini pemerintah Korea Selatan dan AS masih melanjutkan pembahasan teknis terkait partisipasi Seoul dalam menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.