Investor Ritel Tetap Giat Berinvestasi Meski IHSG Sempat Anjlok 27,88 Persen
Kondisi pasar modal Indonesia mengalami tekanan tajam sepanjang tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 27,88% ke posisi 6.236 pada akhir Juli 2026, sebelum akhirnya merangkak naik ke level 6.401 per 14 Agustus 2026.
Kelesuan di pasar modal ini berlangsung sejajar dengan ketidakpastian daya simpan uang masyarakat secara nasional. Berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI), porsi pendapatan yang dialokasikan untuk menabung menyusut dari 17% pada Juni 2026 dibandingkan 17,7% pada Februari, akibat tergeser peningkatan porsi konsumsi.
Meskipun lonjakan biaya hidup dan kemerosotan harga saham umumnya memicu penghentian aktivitas investasi, riset Indeks Merdeka Finansial 2026 mengungkap fenomena sebaliknya. Pekerja di Indonesia justru tercatat semakin konsisten mengalokasikan dana investasi setiap kali menerima gaji.
Laporan internal dari platform investasi multi-aset Pluang memperlihatkan evolusi signifikan pada kebiasaan menabung rutin masyarakat dalam kurun waktu dua tahun terakhir, seperti dilansir dari Detik Finance.
Perubahan pola setoran dana (deposit) dari para investor ritel mencakup beberapa fase penting berikut:
- Periode 2021-2024: Penyetoran dana ke platform tidak terikat siklus gaji. Rasio setoran pada rentang tanggal gajian (tanggal 25 sampai akhir bulan) justru 17% lebih rendah ketimbang hari biasa.
- Tahun 2025: Terjadi pembalikan tren secara total. Nilai setoran pada rentang tanggal gajian melonjak hingga 8,3% di atas hari-hari biasa.
- Tahun 2026: Tren berinvestasi tepat saat gajian kian dominan. Perbandingan setoran pada periode gajian melesat hingga 17% lebih tinggi dibanding hari lainnya.
Pergeseran perilaku ini menandai makin kuatnya penerapan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) di lingkungan pekerja. Para investor kini memilih untuk langsung memotong penghasilan di awal bulan alih-alih bertransaksi secara sporadis.
Director of Marketing & Commercial Pluang, Andreas Agung Hendrawan, menilai tingkat kedewasaan investor ritel domestik sedang teruji dengan hasil yang sangat positif.
"Kebiasaan menyetor yang terikat kuat pada tanggal gajian adalah wujud nyata dari menabung sistematis. Sangat menarik melihat bahwa kedisiplinan tingkat tinggi ini justru terbentuk di tahun-tahun pasar yang paling sulit, bukan saat pasar sedang hijau," kata Andreas.
"Mereka paham bahwa koreksi pasar adalah momen, namun menyisihkan gaji adalah kewajiban untuk mencapai merdeka finansial," ujar Andreas.
Rasio Pembelian Melampaui Penjualan Tanpa 'Panic Selling'
Sikap disiplin pada rentang tanggal gajian ini terbukti ampuh mencegah gelombang aksi jual rugi akibat panik (panic selling). Rekam data puluhan juta transaksi sejak 2020 menunjukkan volume pembelian konsisten melampaui penjualan setiap tahunnya, dengan rasio nilai transaksi beli terhadap jual berada pada tingkat 1,1 sepanjang 2026.
Kondisi tersebut menandakan total pembelian tetap mendominasi meski nilai aset tergerus lebih dari seperempatnya. Para pemodal memilih tidak mencairkan simpanan mereka demi keperluan konsumsi harian.
Kekuatan daya tahan modal masyarakat kelas menengah juga tercermin dari stabilnya rasio dana masuk dibanding dana keluar (deposit-to-withdrawal) pada level 1,34x sepanjang 2026.
Para investor ritel merintis portofolio investasi mereka melalui konsistensi langkah-langkah kecil, sebagaimana teridentifikasi dalam analisis kohort pendaftaran 2019.