Shuhei Yoshida Peringatkan Persaingan Gim Ketat Akibat AI
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta aksesibilitas alat pengembang gim diprediksi memicu tingkat persaingan pasar yang jauh lebih ketat bagi para pengembang independen. Peringatan tersebut disampaikan oleh mantan Presiden Sony Interactive Entertainment, Shuhei Yoshida, saat menghadiri ajang Busan Indie Connect Festival 2026 di Korea Selatan pada 14 hingga 16 Agustus 2026.
Perkembangan teknologi seperti mesin pengembang Unity dan Unreal serta integrasi alat AI kini mempermudah siapa saja untuk menciptakan gim. Kemudahan teknis ini mendorong lonjakan volume karya yang masuk ke platform distribusi digital seperti Steam, sehingga menciptakan tantangan finansial bagi para pembuat gim.
Membahas pergeseran peta industri kreatif, Yoshida mengamati bagaimana integrasi alat modern telah mengubah proses manufaktur gim secara mendasar.
"Perkembangan distribusi digital dan tool pengembangan game, seperti engine Unity dan Unreal, dan sekarang tool AI, membuat hampir siapa pun bisa menjadi game developer," kata Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Ia mencontohkan seorang rekannya sesama desainer yang kini mampu memproduksi karya tanpa hambatan kendala pemrograman berkat bantuan AI.
"Dia adalah desainer yang hebat, tapi dia bukan programmer yang bagus," ujar Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Proses produksi yang kian praktis diyakini bakal melipatgandakan jumlah judul gim baru di pasaran dalam beberapa tahun mendatang.
"Akan ada lebih banyak lagi kreator yang mengembangkan game, dan jumlah game yang dirilis juga akan semakin banyak," katanya, Penasihat Kepler Interactive.
Meski lonjakan karya memberikan ragam variasi bagi konsumen, Yoshida mengingatkan besarnya tekanan ekonomi yang harus dihadapi oleh para pengembang.
"Bagi siapa pun yang ingin menghasilkan uang dari mengembangkan game, kita akan melihat kompetisi yang bahkan lebih berat ke depannya," kata Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Ia menambahkan bahwa situasi ini menciptakan dua sudut pandang bertolak belakang antara penikmat gim dan pelaku usaha.
"Sebagai penggemar game, saya sangat antusias dengan masa depan dan melihat begitu banyak game menarik bermunculan. Tapi dari sudut pandang developer, masa depannya akan sangat berat," ujarnya, Penasihat Kepler Interactive.
Kondisi pasar yang makin padat dipastikan terus berlanjut seiring akselerasi adopsi kecerdasan buatan dalam proses produksi.
"Jadi, tren tersebut akan terus berlanjut, dan saya rasa kompetisinya akan menjadi semakin berat," katanya, Penasihat Kepler Interactive.
Pasca mengundurkan diri dari Sony Interactive Entertainment pada awal tahun 2025, Yoshida aktif memegang peran strategis sebagai penasihat bagi empat entitas gim independen, yaitu Kepler Interactive, FICTIONS, Enhance Games, dan Bokeh Game Studio.
"Saat ini saya bekerja dengan dua publisher indie, Kepler Interactive dan FICTIONS," jelas Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Sebagian besar pendiri studio tersebut merupakan rekan kerja lama Yoshida, termasuk jajaran mantan staf Annapurna Interactive dan Santa Monica Studio.
"Para anggota inti FICTIONS dulu bekerja untuk saya di Santa Monica Studio," ujarnya, Penasihat Kepler Interactive.
Latar belakang pimpinan studio independen lain juga memiliki ikatan historis yang kuat dengannya.
"Dia orang yang sangat, sangat kreatif, dan saya sudah mengenalnya sejak dia masih di Sega," kata Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Keputusannya merapat ke jajaran studio tersebut murni didasari oleh permintaan para kreator setelah ia melepas jabatannya di PlayStation.
"Mereka dulu bekerja untuk saya, jadi ketika saya meninggalkan PlayStation, mereka meminta saya menjadi advisor," jelasnya, Penasihat Kepler Interactive.
Ia merangkum seluruh kesibukannya di sektor independen saat ini ke dalam lingkup kerja sama tersebut.
"Saat ini saya bekerja dengan empat perusahaan tersebut," kata Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Dalam peran penasihatnya di Kepler Interactive, Yoshida terlibat dalam pengarahan strategi pemasaran gim Clair Obscur: Expedition 33 buatan Sandfall Interactive. Pengalaman masa lalunya sebagai produser gim klasik The Legend of Dragoon menjadi alasan utama ketertarikannya pada proyek tersebut.
"Saya melihat gamenya tiga tahun lalu, sekitar dua tahun sebelum game tersebut selesai. Saat itu saya masih bersama PlayStation, dan saya bertemu dengan tim Sandfall Interactive di GDC," kenangnya, Penasihat Kepler Interactive.
Pertemuan di San Francisco memberi kesempatan baginya untuk menguji coba mekanisme permainan secara langsung.
"Saya bisa memainkan demo awal Clair Obscur: Expedition 33. Mereka sudah memiliki combat system yang berjalan," katanya, Penasihat Kepler Interactive.
Keterlibatan emosional dengan sistem pertarungan taktis berbasis waktu mendorong rasa tertariknya terhadap gim tersebut.
"Karena saya adalah produser The Legend of Dragoon, saya sangat senang bisa memainkan game tersebut," tambahnya, Penasihat Kepler Interactive.
Guna menghindari stigma publik bahwa sistem pertarungan bergiliran sudah usang, Yoshida merekomendasikan pembuatan label istilah baru.
"Saya menyarankan kepada mereka bahwa kalau mereka mendeskripsikan game ini sebagai turn-based JRPG, mereka mungkin akan kehilangan ketertarikan dari banyak konsumen. Saya menyarankan agar mereka membuat nama baru untuk combat system-nya," ujar Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Pengujian demo menguatkan keyakinannya bahwa perpaduan mekanik taktis dan elemen timing membutuhkan strategi pemasaran yang lebih segar.
"Saya memainkan demo game itu sekitar dua tahun sebelum rilis dan terkesan dengan sistem pertarungannya yang menggabungkan mekanik JRPG turn-based dan aksi berbasis timing," ujar Shuhei Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Langkah branding baru dinilai penting agar pemain tidak mengabaikan potensi gim sebelum mencobanya.
"Game ini sangat bagus, tetapi lebih baik tidak menyebutnya RPG turn-based karena itu bisa membuat pemain melewatkannya," kata Shuhei Yoshida, Penasihat Kepler Interactive.
Penggunaan istilah baru Reactive Turn-Based RPG terbukti sukses membawa gim tersebut meraih popularitas tinggi hingga memicu pergeseran tren di industri.
"Sekarang banyak developer yang melakukan pitch game baru bergaya turn-based JRPG kepada publisher. Jadi, ini benar-benar lucu," ujarnya, Penasihat Kepler Interactive.
Berdasarkan ulasan Famitsu, kesuksesan gim buatan pengembang Prancis tersebut didorong oleh keberhasilan memadukan kedalaman mekanik RPG Jepang dengan sentuhan gaya seni budaya Prancis secara unik.