Ucapan Orang Tua Ini Tandai Kurangnya Kepekaan pada Emosi Anak
Ucapan sederhana dari orang tua dapat memberikan dampak mendalam pada kondisi emosional buah hati. Respons yang diberikan saat anak mengalami kesedihan, kekecewaan, atau ketakutan menjadi cerminan dari tingkat kepekaan emosional orang tua.
Psikolog klinis Dr. Shefali Tsabary menjelaskan bahwa tutur kata memiliki kekuatan besar yang membekas pada jiwa anak. Hal tersebut disampaikan Tsabary sebagaimana dilansir dari HaiBunda.
"Kata-kata memiliki kekuatan dan dapat meninggalkan kesan yang mendalam pada jiwa seorang anak. Orang tua harus memperhatikan apa yang mereka katakan kepada anak-anak mereka untuk menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung," ungkap Dr. Shefali Tsabary.
Terdapat beberapa bentuk ungkapan verbal yang menjadi indikator kurangnya sensitivitas orang tua terhadap perasaan anak.
Pernyataan seperti "Mengapa kamu tidak bisa menjadi lebih seperti saudaramu?" menandakan ketidakpekaan sekaligus dapat berdampak buruk. Penelitian dari Pennsylvania State University pada 2003 menunjukkan bahwa saudara kandung yang dibesarkan bersama tetap memiliki perbedaan kepribadian dan cara belajar.
Kegagalan memahami perbedaan tersebut membuat orang tua mengabaikan keunikan individu anak. Akibatnya, anak merasa hanya dianggap sebagai salinan dari saudaranya.
"Perbandingan dapat menyebabkan perasaan tidak mampu dan persaingan antar saudara. Sebaliknya, fokuslah pada kekuatan unik setiap anak," kata Tsabary.
Menolak Memberikan Penjelasan
Penggunaan kalimat "Karena Bunda/Ayah bilang begitu" saat menjawab pertanyaan anak dapat memutus komunikasi secara sepihak. Anak-anak membutuhkan alasan rasional di balik keputusan orang tua, meskipun disampaikan secara singkat.
"Ungkapan ini menghentikan komunikasi dan dapat menciptakan rasa dendam. Sebaliknya, jelaskan alasan kita kepada anak-anak untuk lebih menumbuhkan pemahaman dan rasa hormat," kata Tsabary.
Larang Anak Mengekspresikan Emosi
Instruksi untuk "berhenti menangis" tidak membantu proses regulasi emosi anak. Tindakan melarang tangisan justru berisiko membuat anak merasa diabaikan dan tidak dihargai oleh orang tuanya.
"Mengabaikan emosi anak dapat membuat mereka merasa tidak dihargai. Sebaliknya, akui perasaan mereka dan bantu mereka memproses emosi tersebut," ujar Tsabary.
Tsabary memberikan panduan dalam memberikan kenyamanan saat anak menghampiri orang tua.
"Ketika anak datang kepada orang tua untuk mencari kenyamanan, maka berikanlah. Lakukan kontak mata, anggukkan kepala, dan tunjukkan bahwa kita mendengarkan dan ada untuk mereka," sambungnya.