Konflik Iran Menguras Stok Rudal dan Kapal Perang AS
Eskalasi konflik dengan Iran dilaporkan telah menguras persediaan rudal pertahanan udara militer Amerika Serikat serta memicu krisis kapasitas pemeliharaan pada armada kapal perusak dan kapal induk Angkatan Laut AS hingga pertengahan Agustus 2026.
Penggunaan berlebihan sistem pertahanan Patriot dan THAAD sejak akhir Februari 2026 telah menyusutkan stok persenjataan AS secara signifikan. Estimasi CSIS per 27 Juli 2026 menunjukkan persediaan rudal Patriot dan THAAD menyusut dari 2.782 unit menjadi tersisa 993 hingga 1.105 unit, dengan biaya penggantian diperkirakan mencapai 10 miliar dolar AS.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan jumlah galangan kapal. Keterlibatan empat kapal induk secara bersamaan di wilayah operasi berpotensi menciptakan antrean pemeliharaan jangka panjang yang menurunkan tingkat kesiapan armada AS di masa mendatang.
Pengoperasian armada pertahanan juga memicu perubahan prioritas operasional di tingkat komando tempur militer AS akibat menipisnya jumlah kapal perusak kelas Arleigh Burke yang bertugas menangkal serangan rudal balistik.
Direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, Brian Clark, memberikan analisisnya mengenai penumpukan jadwal pengerahan armada Angkatan Laut AS.
"Dalam waktu dekat, empat kapal induk akan dikerahkan pada saat yang sama," kata Brian Clark, Direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute.
Tekanan penugasan yang meningkat tersebut diperkirakan bakal berdampak langsung pada siklus perawatan rutin di galangan kapal dalam beberapa tahun ke depan.
"Kita pada akhirnya akan menghadapi utang pemeliharaan yang harus dibayar dalam beberapa tahun mendatang. Kemungkinan kehadiran kapal induk kita akan lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena kapal-kapal induk akan mengantre untuk masuk ke galangan," kata Brian Clark.
Di ranah industri pertahanan, para kontraktor militer AS mulai mengubah strategi produksi untuk memangkas biaya pemuatan rudal pencegat yang dinilai terlalu mahal dibanding drone musuh.
Executive Director for Integrated Air and Missile Defense Boeing, Jim Bryan, memaparkan penyesuaian pendekatan manufaktur yang sedang dilakukan perusahaannya.
"Kami ingin mengubah pendekatan terhadap sejumlah produk," kata Jim Bryan, Executive Director for Integrated Air and Missile Defense Boeing.
Pihak Angkatan Darat AS menekankan pentingnya efisiensi biaya dalam menghadapi ancaman serangan udara modern.
"Ini mungkin menjadi salah satu masalah yang menentukan dalam perang modern," kata RJ Mikesh, Pejabat Pengadaan Senjata Angkatan Darat AS.
Di tingkat pejabat komando militer, keterbatasan jumlah kapal perusak memaksa perubahan fokus perlindungan keamanan nasional.
"Eksklusif: Kekurangan kapal perusak Angkatan Laut, yang digunakan untuk bertahan dari serangan rudal balistik Iran, akan memaksa kepala Komando Eropa AS memprioritaskan wilayah daratan AS sebagai gantinya, kata para pejabat," kata Pejabat Komando Militer AS.
Departemen Pertahanan AS telah mengonfirmasi bahwa persediaan rudal pencegat THAAD kini tersisa kurang dari 300 unit. Untuk mengimbangi penurunan persediaan ini, Pentagon memberikan kontrak senilai 211 juta dolar AS kepada Lockheed Martin guna memproduksi peluncur sistem THAAD Konfigurasi 3 bagi Uni Emirat Arab dengan target penyelesaian hingga Januari 2031.