Diet Ketat Berisiko Memicu Bau Mulut dan Sariawan Berulang
Pembatasan asupan makanan yang terlalu ketat saat menjalani diet ternyata dapat memengaruhi kondisi kesehatan rongga mulut. Masalah seperti timbulnya aroma tak sedap pada napas hingga munculnya sariawan berulang sering kali dipicu oleh pola makan yang tidak seimbang.
Seperti dilansir dari Detik Health, praktisi diet dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa bau mulut saat diet ketat terjadi karena tubuh memecah lemak sebagai sumber energi utama ketika pasokan karbohidrat berkurang. Proses ini menempatkan tubuh pada fase ketosis.
"Fase ketosis menyebabkan bau mulut," kata dr Yaze dalam live TikTok bersama detikcom, Kamis (13/8/2026).
Ketika seseorang menerapkan pola makan rendah karbohidrat seperti diet ketogenik, tubuh secara alami mengalihkan sumber bahan bakar ke cadangan lemak. Pemecahan lemak tersebut menghasilkan senyawa keton, salah satunya adalah aseton.
Aseton ini kemudian terbuang melalui pernapasan dan menghasilkan aroma khas yang menyerupai cairan pembersih kuteks. Oleh sebab itu, perubahan aroma napas saat diet rendah karbohidrat tidak selalu disebabkan oleh kelalaian dalam menjaga kebersihan gigi.
Selain memicu masalah pada aroma napas, pembatasan menu yang terlalu ketat berpotensi mengurangi asupan nutrisi harian. Pengurangan variasi makanan membuat tubuh rentan kekurangan zat gizi penting seperti vitamin B12, folat, zat besi, dan zinc.
Defisiensi mikronutrisi tersebut berkaitan erat dengan kemunculan recurrent aphthous stomatitis atau sariawan yang terjadi secara berulang.
"Karena terlalu ketat, ada mikronutrisi yang tidak terpenuhi, akhirnya bisa terjadi sariawan," kata dr Yaze.
Faktor Lain dalam Rongga Mulut
Meski demikian, sariawan yang sering kambuh tidak serta-merta menandakan tubuh kekurangan vitamin atau mineral. Evaluasi secara menyeluruh tetap diperlukan untuk menentukan penyebab pastinya.
Begitu pula dengan masalah bau mulut. Selain akibat fase ketosis, aroma tak sedap pada rongga mulut juga dapat bersumber dari faktor internal kesehatan gigi dan mulut, seperti:
- Penumpukan plak pada gigi
- Lapisan kotoran pada permukaan lidah
- Penyakit gusi dan gigi berlubang
- Kondisi mulut kering serta sisa makanan yang tertinggal
Langkah Perawatan dan Pencegahan
Menjaga kebersihan rongga mulut tetap menjadi prioritas utama meskipun perubahan aroma napas terjadi seusai mengubah pola makan. Beberapa langkah perawatan berikut dapat diterapkan untuk menjaga kesegaran dan kebersihan mulut:
- Mengonsumsi makanan yang beragam untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
- Menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.
- Pembersihan sela-sela gigi menggunakan benang gigi (floss) atau pembersih interdental.
- Membersihkan permukaan lidah guna mengurangi penumpukan penumpukan bakteri dan debris.
- Memenuhi kebutuhan cairan tubuh agar mulut tidak kering.
Penggunaan obat kumur atau mouthwash antibakteri serta berbasis fluoride juga bisa dijadikan pelengkap setelah menyikat gigi dan flossing. Namun, penggunaannya tidak dirancang untuk menggantikan fungsi sikat gigi.
Jika masalah bau mulut menetap atau sariawan terus berulang, pola makan ekstrem yang memicu kekurangan gizi sebaiknya segera dievaluasi. Konsultasi langsung dengan dokter gizi atau dokter gigi sangat disarankan untuk memperoleh penanganan yang tepat.