Iran Klaim Kemenangan Diplomasi Saat Stok Rudal Balistik Kembali Pulih

Share

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran memenangkan perang dan diplomasi melawan Amerika Serikat pada Selasa, 18 Agustus 2026. Pernyataan tersebut disampaikan setelah masa berlaku batas waktu nota kesepahaman kesepakatan damai sementara selama 60 hari resmi berakhir tanpa hasil final.

Perkembangan diplomasi yang mandek ini bertepatan dengan laporan intelijen Israel yang menunjukkan pemulihan cepat persediaan rudal balistik Iran. Cadangan rudal Teheran dilaporkan kembali menyentuh angka sekitar 2.500 unit dari sebelumnya menyusut hingga 1.300 unit hanya dalam kurun waktu delapan bulan.

Araghchi menyampaikan bahwa Teheran bertahan melawan kekuatan militer besar dan memaksa pihak lawan yang semula menuntut penyerahan diri untuk beralih ke meja perundingan. Menurutnya, negosiasi damai yang akhirnya disepakati berjalan sesuai dengan ketentuan yang diajukan pihak Iran.

"They who demanded unconditional surrender, shortly after the war began, actually begged to negotiate," kata Araghchi.

Ia menuturkan bahwa posisi tawar Iran tetap kuat baik di medan pertempuran maupun di meja diplomasi. Berbagai pejabat luar negeri dari sejumlah negara juga diakui Araghchi memberikan apresiasi atas pencapaian diplomasi Teheran tersebut.

"We fought with strength, and we negotiated with strength," ucap Araghchi.

Araghchi menambahkan penilaian sejumlah pihak luar mengenai posisi Iran setelah konflik bersenjata dan proses negosiasi berlangsung. Kesepakatan sementara yang sempat ditandatangani pada Juni lalu menetapkan penghentian operasi militer, namun kesepakatan itu dibatalkan Presiden AS Donald Trump pada 7 Juli 2026 sebelum disusul penangguhan oleh Kementerian Luar Negeri Iran.

"You have won both the war and diplomacy," kata Araghchi menirukan ucapan para menteri luar negeri dari berbagai negara kepadanya.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Iran untuk segera mengakhiri konflik secara total. Desakan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara terbaru melalui sambungan telepon saat negosiasi damai kedua negara berada dalam kondisi buntu pada Senin, 17 Agustus 2026.

"They should wave the white flag of surrender," cetus Trump.

Sementara itu, pemulihan industri pertahanan Iran menjadi perhatian serius kalangan keamanan Israel. Media lokal The Jerusalem Post mengutip sumber militer Israel yang mengakui bahwa kecepatan produksi dan pemulihan fasilitas militer Teheran berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan awal setelah serangkaian serangan udara. Kini Iran juga dilaporkan mulai bersiap menghadapi kemungkinan berlanjutnya konflik militer terbuka.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author