Survei Sebut Generasi Muda Tidak Percaya Bos AI Alex Karp
Tingkat kepercayaan anak muda berusia 18-34 tahun terhadap para pimpinan perusahaan kecerdasan buatan atau AI tergolong sangat rendah. Berdasarkan survei CNBC bersama Generational Lab, CEO Palantir Alex Karp menjadi pimpinan teknologi yang paling tidak dipercayai responden dari sembilan nama yang diajukan.
Hasil riset tersebut menunjukkan 81 persen responden mengaku tidak percaya Alex Karp dapat bertindak bertanggung jawab dalam mengelola AI, dikutip dari Detik iNET. Selain Alex Karp, Chairman sekaligus co-founder Palantir Peter Thiel juga meraih tingkat ketidakpercayaan tinggi mencapai 79 persen responden.
Alex Karp dikenal sebagai pimpinan teknologi yang kerap memicu kontroversi. Pria berusia 58 tahun ini pernah mempublikasikan manifesto yang memuji kekuatan Amerika Serikat serta mengindikasikan keberadaan budaya yang dianggap lebih rendah dibandingkan budaya lain.
Melalui unggahan di media sosial Twitter atau X, Alex Karp menyebut beberapa budaya berhasil melahirkan keajaiban, sementara budaya lainnya dinilai regresif dan berbahaya. Ia juga melontarkan kritik kepada dunia Barat yang dianggap menolak mendefinisikan budaya nasional demi alasan inklusivitas.
Sikap kontroversial Alex Karp turut terlihat saat mengomentari konflik Israel dan Palestina. Ia mengkritik aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kampus Amerika Serikat dan menilai para aktivis tersebut sebaiknya dikirim dalam program pertukaran pelajar ke Korea Utara.
"Para aktivis perdamaian adalah aktivis perang," kata Karp saat berbicara di AI Expo for National Competitiveness, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (18/8/2026).
Laporan Amnesty International mengungkapkan perangkat AI buatan Palantir digunakan oleh Departemen Keamanan Nasional Amerika Serikat untuk memantau warga non-Amerika yang mendukung hak-hak Palestina. Palantir juga menjalin kerja sama strategis dengan menyediakan teknologi bagi militer Israel.
Saat operasi militer Amerika Serikat menyasar kapal-kapal di Laut Karibia pada September 2025, Alex Karp mengindikasikan bahwa kejahatan perang sebaiknya diakui secara konstitusional agar memberikan keuntungan bagi bisnis perusahaannya. Palantir tercatat memegang kontrak senilai USD 10 miliar dengan militer Amerika Serikat.
"Salah satu alasan mengapa saya menyukai pertanyaan ini adalah, semakin konstitusional (kejahatan perang), semakin Anda ingin mewujudkannya, Anda akan semakin membutuhkan produk saya," ujar Karp di acara DealBook Summit pada Desember 2025.
Selain masalah kecerdasan buatan dan konflik global, Alex Karp bersikap keras menolak imigrasi serta kebijakan perbatasan terbuka. Ia berulang kali menyampaikan pujian atas kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump dan menawarkan layanan Palantir kepada lembaga Immigration and Customs Enforcement (ICE).
"Saya akan menggunakan seluruh pengaruh saya untuk memastikan negara ini tetap skeptis terhadap migrasi dan memiliki kapasitas pencegahan yang hanya digunakan secara selektif," kata Karp.
Pada Agustus 2025, ICE mengumumkan penunjukan Palantir untuk membangun sistem pengawasan bernilai USD 30 juta bernama ImmigrationOS guna mendukung program deportasi massal.