Peta Persaingan MotoGP 2026 Memanas Usai Seri Paruh Kedua
Persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 kembali terbuka lebar setelah performa dominan Aprilia di Silverstone dan manuver pemangkasan poin oleh pembalap Ducati Lenovo, Marc Marquez, usai melakoni 12 seri balapan.
Hingga paruh musim 2026, Jorge Martin memimpin klasemen dengan keunggulan 31 poin atas Marco Bezzecchi di posisi kedua, sementara Ai Ogura menempati peringkat ketiga dan Marc Marquez membuntut di posisi keempat.
Pengamat kawakan MotoGP, Carlo Pernat, menilai kritiknya terhadap sistem konsesi yang membatasi Ducati, sembari menyoroti peran besar Marquez dalam menutupi kekurangan teknis motor.
"Quartararo dan Brivio adalah perekrutan yang luar biasa. Quartararo adalah satu dari tiga pembalap yang benar-benar menonjol di MotoGP saat ini, setara dengan Marc Marquez dan Pedro Acosta. Dan pemilihan Brivio sangatlah tepat, benar-benar langkah yang jitu.
Dia adalah sosok yang selalu mengelola segala sesuatunya dengan sempurna, sejak zaman masih di Yamaha. Dia juga berhasil meraih kemenangan bersama Suzuki, dan kini lihatlah apa yang dilakukannya bersama Trackhouse," ujar Pernat.
Pernat menambahkan analisisnya mengenai performa motor Ducati Desmosedici dan dampaknya pada sang juara dunia sembilan kali.
"Terutama karena mereka memiliki Marc Marquez dan pencapaian Marquez tahun lalu. Satu hal yang perlu diperhatikan, Ducati yang benar-benar optimal adalah model 2024. Kemudian peningkatan yang dilakukan pada 2025 tidak memberikan efektivitas yang diharapkan, namun Marc mampu mengendarainya melampaui batasan-batasan tersebut," jelaskan Pernat.
Pengamat asal Italia itu menegaskan kontribusi besar Marquez dalam mengangkat performa tim pada musim sebelumnya.
"Setidaknya 30 persen performa tambahan datang darinya. Dia memiliki motivasi yang sangat besar setelah semua yang dia alami, sehingga dia mampu menutupi hal-hal yang tidak bekerja dengan baik," imbuhnya Pernat.
Membahas dinamika musim berjalan, Pernat menyinggung perubahan kondisi fisik Marquez serta situasi teknis yang dihadapinya tahun ini.
"Bukan berarti dia tidak ingin menang, tentu saja tidak. Tetapi dia tidak memiliki motivasi seperti yang dia miliki tahun lalu. Tambahan performa 30 persen itu tidak ada lagi, setidaknya tidak selalu ada," jelas Pernat.
Faktor cedera pada awal musim juga menjadi catatan penting bagi Pernat dalam menilai gaya balap Marquez saat ini.
"Pertama, harus diingat bahwa dia sempat mengalami cedera dan memulai musim dalam kondisi fisik yang kurang fit. Dia bukan Marquez yang sama seperti tahun lalu. Jadi, wajar jika dia membalap dengan lebih hati-hati.
Tahun lalu, tidak ada hal lain yang lebih penting baginya selain menang. Dia jatuh, bangkit lagi, lalu menang," ungkap Pernat.
Kondisi internal Aprilia dan ketegangan antar pembalapnya juga menjadi perhatian utama Pernat dalam perebutan gelar juara.
"Persaingan perebutan gelar dunia kembali terbuka tahun ini, karena Aprilia sendiri yang membukanya kembali. Saat Marquez tertinggal 102 poin dari Bezzecchi, sulit membayangkan dia bisa bangkit mengejar ketertinggalan itu," kata Pernat.
Pernat memberikan pandangannya terkait karakter dan peningkatan performa yang ditunjukkan oleh Bezzecchi di lintasan balap.
"Bezzecchi bukanlah seorang fenomena. Mari kita perjelas hal itu. Meski begitu, performanya tahun lalu luar biasa.
Dia mendapatkan dukungan penuh dari tim dan seluruh struktur Aprilia karena Martin absen akibat cedera, namun dia benar-benar tampil layaknya seekor ‘pitbull’. Dia juga menunjukkan mentalitasnya meningkat tajam. Kemajuan yang semakin terlihat jelas di awal musim ini, meskipun kemudian dia harus berhadapan dengan Martin," jelas Pernat.
Ia membandingkan persaingan internal di tim Aprilia dengan riwayat rivalitas panas para pembalap masa lalu.
"Dan dia menghadapi Martin yang sedang dalam performa puncak. Sesuatu yang, terus terang, bahkan tidak saya duga sebelumnya. Ditambah lagi, ada faktor Marquez dalam persaingan ini.
Lalu terjadilah peristiwa di Balaton Park. Suasananya tidak lagi sama seperti dulu. Saya tidak bilang Marco dan Jorge tidak saling bicara, tetapi tidak diragukan lagi ada ketegangan di antara mereka," lanjut Pernat.
Pernat menyamakan situasi tersebut dengan persaingan legendaris di ajang MotoGP pada era sebelumnya.
"Marco dan Jorge sedikit mengingatkan saya pada Max Biaggi dan Jean-Philippe Ruggia. Ingat saat Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo menjadi rekan setim? Kita bisa saja mencoba mengatur acara makan malam sebanyak apa pun yang kita mau. Yang terpenting adalah kedua tim tetap menjalin kerja sama," terangnya Pernat.
Mengenai langkah kepindahan Martin di masa depan, Pernat menyoroti dampak besar yang berpotensi terjadi.
"Namun, tanda tanya terbesar saat ini adalah Martin. Dia akan segera hengkang dan tidak memedulikan hal lain, dia hanya ingin menang. Dengan begitu, dia akan membawa pelat nomor 1 ke Yamaha, persis seperti yang dilakukannya saat tiba di Aprilia," jelas Pernat.
Keputusan Gigi Dall'Igna merekrut Pedro Acosta untuk mendampingi Marquez di Ducati Lenovo musim depan turut mendapat pujian dari Pernat.
"Gigi Dall’Igna telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Maksud saya, secara umum saya tidak akan pernah menempatkan dua pembalap Spanyol dalam satu tim Italia. Tetapi dalam kasus ini, keputusannya tepat.
Gigi hanya ingin menang. Ducati berhasil memenangkan pasar dengan mendapatkan Pedro Acosta yang akan bersanding dengan Marquez. Jika tahun depan motornya tampil prima, sama seperti performa Ducati saat ini, saya rasa tim ini tidak mungkin kalah," ujarnya Pernat.
Meskipun persaingan ketat, Pernat tetap menjagokan Marquez sebagai calon kuat juara dunia musim 2026.
"Marc Marquez adalah kandidat terkuat. Karena dia berhasil memangkas ketertinggalan 102 poin. Selain itu juga karena alasan yang sangat sederhana, yaitu dia tahu cara mengelola berbagai situasi.
Saat tahu bisa mengincar kemenangan, dia akan melakukannya. Saat menyadari harus bermain aman, dia akan melakukannya, mengamankan hasil, lalu melangkah maju. Dia tahu betul caranya.
Tanpa diragukan lagi, kemampuannya dua kali lebih baik dibandingkan Bezzecchi dan Martin," pungkas Pernat.
Di sisi lain, Pedro Acosta memberikan masukan terkait uji coba perangkat baru berupa earplug radio khusus yang dikembangkan oleh Dorna.
"Ini adalah earplug (sumbat telinga) yang ingin digunakan Dorna untuk sistem audio tersebut. Namun, bisa dibilang ini adalah tes pertama. Saya sangat sensitif terhadap earplug, tetapi mereka berhasil menemukan kompromi yang bagus. Saya cukup puas dengan hasilnya," ungkap Acosta.
Rider muda tersebut menjelaskan lebih mendalam mengenai integrasi teknologi baru dengan pelindung telinga yang biasa digunakannya.
"Mereka menemukan cara untuk menggabungkan earplug yang saya sukai dengan bentuk baru yang dicetak khusus. Prioritas utamanya bukan terletak pada fungsionalitas sistem radio itu sendiri, melainkan pada kenyamanan penggunaannya sehari-hari. Saya tidak tahu bagaimana mereka akan mengembangkan aspek audionya lebih lanjut, tetapi syarat minimalnya adalah alat itu harus nyaman dipakai," jelas Acosta.
Acosta menegaskan bahwa kenyamanan menjadi alasan utamanya untuk sukarela menguji perangkat tersebut di GP Sachsenring dan Silverstone.
"Model lain yang kami coba sebelumnya tidak pas. Dan saya sangat puas dengan versi terbaru ini hingga secara sukarela saya memakainya di Sachsenring dan di sini. Saya memakainya karena menurut saya alat itu nyaman. Jika tidak nyaman, saya pasti sudah kembali menggunakan yang standar," pungkas Acosta.
Sementara itu, mantan pembalap MotoGP Andrea Dovizioso memberikan analisis mengenai sapu bersih podium oleh Aprilia di Silverstone, di mana Bezzecchi membukukan rekor lap baru 1:56,280 menit.
"Mereka harus memanfaatkan momen ini karena saat ini Marc Marquez yang bisa dibilang merupakan sosok yang paling mungkin menyulitkan mereka, sedang kesulitan. Entah karena motor Ducati sedikit kalah unggul di lintasan khusus ini, atau karena dia masih memiliki keterbatasan fisik," ujar Dovizioso.
Dovizioso mengingatkan Aprilia untuk mengumpulkan poin sebanyak mungkin sebelum memasuki sirkuit yang menguntungkan Marquez.
"Mereka harus mengumpulkan poin sebanyak mungkin dalam balapan-balapan ini. Sebab nantinya, di Aragon misalnya, ada kemungkinan Marc bisa membuat perbedaan seperti yang dia lakukan di Sachsenring. Jadi ya, mereka harus melakukannya," sambung Dovizioso.
Ia juga menilai karakteristik unik Sirkuit Silverstone tidak sepenuhnya mencerminkan peta kekuatan antarpabrikan sepanjang musim.
"Silverstone adalah trek yang sangat unik. Sirkuit ini bukan trek yang bisa menunjukkan dengan tepat, bagaimana situasi sebenarnya sepanjang tahun karena karakteristiknya ekstrem, sangat lebar, dan menuntut di segala aspek. Namun menurut saya, Silverstone kembali mengonfirmasi kekuatan yang kita lihat di lintasan tahun ini.
Artinya, Aprilia memang sedikit lebih unggul dibandingkan Ducati. Meski begitu selisihnya tidaklah besar," imbuh Dovizioso.
Mengenai pencapaian Alex Marquez yang dua kali finis keempat sebagai penunggang Ducati terbaik di Silverstone, Dovizioso memberikan apresiasinya.
"Alex yang sangat pandai mengelola cengkeraman ban, sebenarnya mampu meraih podium dan gapnya pun tipis. Hal itu mengisyaratkan bahwa perbedaan performa antar motor tidaklah sebesar yang terlihat. Kendati demikian, Aprilia sudah membuktikan keunggulan daya saing mereka karena para pembalapnya secara konsisten lebih mudah berada di barisan depan baik saat kualifikasi, sprint, maupun balapan utama," ujarnya Dovizioso.
Mantan rival berat Marquez tersebut kemudian membedah kepemimpinan dan cara kerja pembalap Spanyol itu di dalam garasi Ducati.
"Saya yakin Marc adalah seorang pemimpin karena caranya bekerja dan pendekatannya. Itulah sebabnya dia membuat orang-orang yang bekerja bersamanya merasa nyaman. Tentu saja bakatnya turut berperan ketika kita bisa melaju cepat dan segala sesuatu terasa lebih mudah bagi kita, semuanya menjadi lebih sederhana," ungkap Dovizioso.
Dovizioso menekankan bahwa keberhasilan Marquez bertumpu pada analisis mendalam dan perhitungan matang.
"Namun itu saja tidak cukup. Kalau kita mempelajari dan menganalisis perilakunya, kita akan melihat bahwa tindakannya terencana dan penuh perhitungan. Dia tidak sekadar turun ke lintasan dengan pikiran, ‘saya akan tampil hebat dan meninggalkan semua orang jauh di belakang’. Ada banyak kerja keras di balik layar, sama halnya dengan banyak pembalap sukses lainnya yang memprioritaskan aspek-aspek ini," kata Dovizioso.
Ia juga menyebut bahwa kemampuan kepemimpinan Marquez sebenarnya sudah terlihat sejak lama oleh para rivalnya.
"Bagi saya, Marc adalah seorang pemimpin. Sekarang Ducati sudah memahami seperti apa Marc, sebelumnya mereka tidak melihat hal itu. Namun saat saya masih bersaing melawannya, saya memang melihatnya.
Saya tahu betapa kuatnya dia dan betapa hebatnya dia dalam hal ini. Ducati baru menyadarinya sekarang," imbuh Dovizioso.
Dovizioso juga memuji keberanian Bezzecchi yang mampu bangkit mengamankan podium ketiga di Silverstone usai gagal meraih poin dalam empat balapan berturut-turut.
"Menurut saya keputusannya berani mengambil risiko untuk mengamankan posisi ke-3, itu tepat. Hal itu menjadi bukti tambahan bahwa dia adalah seorang penantang gelar dunia. Itu akan menjadi modal berharga baginya dalam balapan-balapan mendatang.
Ini bukan sekadar soal tambahan poin yang dia peroleh, melainkan soal pendekatan dan mentalitasnya. Dia melakukan hal yang benar. Senang rasanya melihatnya begitu emosional, pemandangan yang luar biasa," ungkap Dovizioso.
Ketika ditanya mengenai sosok yang paling siap menjuarai musim ini, Dovizioso menunjuk Martin namun menegaskan persaingan masih panjang.
"Kalau ditanya siapa pembalap Aprilia yang paling siap baik dari segi kemampuan maupun karena dia sudah pernah memenangkan gelar, jawabannya pastilah Jorge Martin. Lagipula, masih banyak balapan tersisa. Akan ada balapan di mana Ducati dan Marc benar-benar bisa membuat perbedaan, dan kita harus melihat bagaimana situasi-situasi tersebut ditangani," pungkas Dovizioso.
Di sisi lain, kejutan musim 2026 datang dari pembalap Trackhouse Racing, Ai Ogura. Jurnalis Manuel Pecino mengungkapkan bahwa Ogura merupakan sosok unik dan tertutup bagi media namun dicintai oleh krunya.
Pecino menceritakan pengalamannya saat mewawancarai Ogura yang pemulihan cedera di Madrid. Pertanyaan Pecino sempat direspon dingin oleh Ogura yang balik bertanya apakah jurnalis tersebut pernah mewawancarai pembalap Jepang sebelumnya.
"Saya sangat marah kepada Ogura, benar-benar marah karena sikapnya menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap pekerjaan saya. Namun, setelah emosi mereda, pandangan saya mengenai insiden itu pun berubah," ungkap Pecino.
Karakter misterius Ogura bahkan diakui langsung oleh Marc Marquez yang merasa sulit membaca strategi psikologis sang pembalap muda.
"Saya tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Ogura merupakan sebuah teka-teki," ujar Marquez mengenai rival barunya itu.
Mantan pembalap Alex Barros turut memberikan penilaiannya terhadap peluang Ogura dalam persaingan gelar musim ini.
"Apakah Ogura merupakan kandidat juara dunia? Mengapa tidak? Bagi saya, Marc Marquez jelas merupakan favorit utama namun Ai adalah sosok yang penuh kejutan dan sulit diprediksi. Kita tahu betul apa yang mampu dicapai Marc, sedangkan kemampuan Ogura masih menjadi tanda tanya besar," kata Barros.
Barros memuji manajemen ban dan gaya berkendara halus milik juara dunia Moto2 2024 tersebut.
"Kita telah melihat bahwa dia sangat piawai dalam menjaga kondisi ban. Pada lap-lap awal, Ogura memang butuh waktu untuk menemukan ritmenya. Tetapi begitu ban memberikan kepercayaan diri kepadanya, dia berubah menjadi seperti sebuah robot.
Ogura memiliki keseimbangan antara kehalusan teknik dan agresivitas yang sempurna. Gaya balapnya sangat halus dan sensitif," tutup Barros.
Hingga seri ke-12 usai, Ogura berhasil sembilan kali finis di posisi lima besar pada balapan utama hari Minggu dan kini menempati peringkat ketiga klasemen sementara.