Karyawan Meta Protes Kebijakan Pemantauan Kerja demi Pelatihan AI

Share

Gelombang protes internal melanda Meta Platforms Inc. setelah pihak manajemen menerapkan kebijakan pemantauan komputer karyawan yang kontroversial untuk melatih teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Karyawan menolak keras program bernama Model Capability Initiative (MCI) tersebut karena dinilai melanggar privasi dengan merekam ketukan papan tik, pergerakan tetikus, hingga aktivitas layar saat menggunakan aplikasi tertentu.

Dilansir dari detik.com dan harianbasis.co, ketegangan ini memuncak di tengah langkah efisiensi besar-besaran perusahaan yang memangkas sekitar 8.000 posisi atau 10 persen staf global pada Rabu, 20 Mei 2026 pagi waktu setempat.

Selain pemecatan, manajemen Meta secara paksa mengalihkan tugas lebih dari 7.000 pekerja ke dalam tim khusus pengembangan infrastruktur komputasi awan AI dan tim agen AI internal berkode nama Hatch.

Kebijakan mutasi sepihak dan pengawasan ketat lewat sistem MCI memicu kemarahan para insinyur yang menganggap tindakan tersebut mengikis budaya kerja fleksibel perusahaan.

"I don’t want my screen recorded because it feels like a violation of my privacy," tulis seorang engineer Meta dalam sebuah unggahan internal yang dilihat hampir 20.000 rekan kerjanya, sebagaimana dilaporkan Wired dan dikutip detik.com.

Unggahan tersebut mendapat dukungan luas dari sesama pekerja yang merasa moral karyawan sedang berada di titik nadir akibat tekanan produktivitas berbasis AI.

"But in the grand scheme of things, I don’t want to live in a world where humans, whether employees or not, are exploited for their AI training data," tambah insinyur tersebut.

Aksi perlawanan kemudian meluas melalui penyebaran selebaran protes di lima kantor Meta di Amerika Serikat dan petisi internal yang menuntut penghentian ekstraksi data tanpa persetujuan.

"Does ‘selected’ imply this is an [Applied AI]-style draft rather than a voluntary move?" tanya seorang karyawan Meta lain yang mempertanyakan sistem mutasi paksa dalam forum internal perusahaan.

Kritik tajam juga disampaikan oleh seorang insinyur rekayasa produk yang menilai strategi manajemen puncak telah berubah menjadi bentuk kendali yang otoriter.

"The new orgs showcase a shift in top level management strategy towards micro-authoritarianism," kata seorang Meta engineer.

Insinyur tersebut menjelaskan bahwa kombinasi pemecatan berkala, ketidakpastian kerja, serta pengawasan MCI dirancang untuk menekan sikap kritis para staf.

"No, we tell you what to do, and command and order is the way forward," ujar karyawan tersebut menirukan sikap manajemen Meta.

Ia menambahkan bahwa rentetan kebijakan agresif ini dirasakan sebagai tekanan mental yang bertubi-tubi bagi para pekerja di lingkungan kantor.

"Small acts foreshadowed what was to come: rolling layoffs with months of uncertainty before confirmation, MCI, drafting … It feels like they are trying to defeat our spirit by landing multiple attacks at once," kata Meta engineer tersebut.

Hingga saat ini, lebih dari 500 karyawan telah menandatangani petisi penolakan yang ditujukan langsung kepada Mark Zuckerberg dan jajaran direksi Meta.

"Want Meta to stop collecting employee data to feed to their AI models?" bunyi pertanyaan dalam selebaran petisi karyawan yang ditempel di area publik seperti kafetaria.

Ketakutan akan sanksi dari manajemen membuat banyak pekerja memilih untuk bergerak secara tertutup atau mengorganisasikan diri ke dalam serikat pekerja seperti United Tech and Allied Workers (UTAW) di Inggris.

"Meta has an extreme culture of fear," kata seorang Meta data scientist.

Menanggapi penolakan masif tersebut, manajemen Meta memberikan klarifikasi resmi mengenai urgensi pengumpulan data navigasi untuk menyempurnakan fungsi agen AI.

"If we’re building agents to help people complete everyday tasks using computers, our models need real examples of how people actually use them – things like mouse movements, clicking buttons and navigating dropdown menus. To help, we’re launching an internal tool that will capture these kinds of inputs on certain applications to help us train our models. There are safeguards in place to protect sensitive content, and the data is not used for any other purpose," kata seorang Meta spokesperson.

Di sisi lain, Head of People Meta Janelle Gale mengeluarkan memo resmi yang menegaskan bahwa struktur organisasi yang lebih ramping sangat krusial bagi masa depan korporasi.

"We’re now at the stage where many orgs can operate with a flatter structure with smaller teams of pods/cohorts that can move faster and with more ownership," kata Head of People Meta Janelle Gale dalam sebuah memo resmi perusahaan.

Berdasarkan laporan asatunews.co.id yang melansir estimasi Evercore, langkah restrukturisasi ini diperkirakan menghemat anggaran sebesar 3 miliar dolar AS.

Nilai penghematan tersebut terhitung sangat kecil dibandingkan komitmen investasi AI Meta yang mencapai 600 miliar dolar AS untuk beberapa tahun ke depan, dengan alokasi tahun ini saja menyentuh 160 miliar dolar AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author