Menlu Iran Klaim Menang Perang dan Diplomasi Lawan AS

Share

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran telah memenangkan perang dan diplomasi melawan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan menyusul seruan Presiden AS Donald Trump agar Iran menyerah mengakhiri konflik antara kedua negara. Araghchi mengatakan bahwa Iran bertempur dengan caranya sendiri dan memaksa pihak yang semula menuntut penyerahan tanpa syarat, merujuk pada seruan Trump di awal konflik, untuk beralih ke meja perundingan.

"Mereka yang menuntut penyerahan diri tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon untuk melakukan negosiasi," ujar Araghchi, seperti dilansir dari Detikcom. Menurut Araghchi, Iran bertahan selama berhari-hari melawan apa yang disebutnya sebagai kekuatan militer terbesar di dunia, didukung sejumlah negara Barat dan lainnya yang mendukung Amerika Serikat selama perang berlangsung. Ia mengklaim bahwa Iran awalnya menolak gencatan senjata dan terus bertempur hingga pihak lawan menerima gencatan senjata dan negosiasi sesuai ketentuan Iran.

"Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami melakukan negosiasi dengan kekuatan," ucap Menlu Iran tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah menteri luar negeri dari berbagai negara mengakui kemenangan Iran dalam perang dan diplomasi.

Pernyataan Araghchi muncul setelah Trump pada Senin (17/8) menyerukan agar Iran menyerah untuk mengakhiri konflik. "Mereka seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News, seperti dilansir Reuters. Upaya negosiasi damai antara AS dan Iran menghadapi kebuntuan.

Kesepakatan sementara yang ditandatangani Juni lalu menetapkan penghentian operasi militer di semua front, namun kesepakatan itu batal setelah Trump mengumumkan berakhirnya pada 7 Juli. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan penangguhan kesepakatan tersebut seminggu kemudian.

Berdasarkan nota kesepahaman, kedua negara berkomitmen merundingkan kesepakatan final dalam waktu maksimal 60 hari, yang bisa diperpanjang atas kesepakatan bersama. Senin (17/8) menandai berakhirnya batas waktu 60 hari sejak MoU ditandatangani oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Amerika Serikat diplomasi Iran
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author