Ben Gvir Serukan Pembunuhan Warga Palestina di Gaza

Share

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyerukan pembunuhan 30 hingga 40 warga Palestina di Jalur Gaza setiap malam. Imbauan tersebut disampaikan dalam wawancara podcast bersama mantan sandera Hamas, Rom Braslavski, yang disiarkan pertengahan Agustus 2026.

Politikus sayap kanan jauh pimpinan Partai Jewish Power tersebut menegaskan bahwa operasi militer Israel seharusnya tidak hanya menargetkan pihak-pihak yang menimbulkan ancaman langsung secara fisik.

"Bukan rahasia lagi, saya tidak sependapat dengan Perdana Menteri," cetus Ben-Gvir.

Pernyataan ini dilontarkan sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mulai mengurangi intensitas serangan militer di wilayah Jalur Gaza.

"Menurut saya, kita perlu melancarkan serangan-serangan terarah di Gaza setiap malam, melenyapkan 30 atau 40 orang — bukan hanya mereka yang membahayakan kita pada saat itu," kata Ben-Gvir.

Sosok yang memegang kendali atas kepolisian dan layanan penjara Israel ini menyatakan bahwa seluruh penduduk di wilayah tersebut layak menjadi sasaran serangan militer.

"Ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup. Mereka tidak seharusnya hidup. Mereka bahkan bukan manusia," ujar Ben-Gvir.

Ben-Gvir juga menyinggung seorang wanita Gaza yang pernah memberikan makanan kepada Braslavski selama masa penyanderaan, dengan menyebutnya sebagai teroris yang pantas dieksekusi di tempat.

"Saya menganggap seluruh Gaza sebagai milik kita," ucap Ben-Gvir.

Ia mendorong pengusiran warga Palestina secara permanen serta pembangunan kembali permukiman Yahudi di seluruh kawasan pesisir tersebut.

"Pembangunan permukiman bukan hanya di Gush Katif, tetapi di seluruh Gaza, mendorong emigrasi sebanyak mungkin, mengirimkan mereka ke negara-negara mereka, dan untuk para teroris, tidak ada emigrasi, tidak ada apa pun, hanya bunuh mereka satu per satu," tandasnya.

Meskipun menjabat sebagai anggota kabinet keamanan yang merumuskan kebijakan perang, Ben-Gvir tidak memiliki wewenang komando langsung atas militer Israel untuk memerintahkan serangan secara mandiri.

"Saya akan membalikkan dunia untuk mewujudkannya. Saya berjanji akan melakukan segala yang saya bisa," kata Ben-Gvir saat berjanji akan mengupayakan keterlibatan Braslavski dalam eksekusi mati tahanan Palestina.

Di tengah eskalasi retorika tersebut, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.250 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober lalu. Sejumlah pakar hukum internasional memperingatkan bahwa langkah pemindahan penduduk secara paksa ini memenuhi kriteria pembersihan etnis.

Sikap ekstrem Ben-Gvir telah memicu sanksi dari Inggris serta beberapa negara Uni Eropa. Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan melalui platform X bahwa seluruh pengakuan tersebut harus didokumentasikan untuk peradilan kejahatan perang.

Pernyataan-pernyataan tersebut kini telah diserahkan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebagai bukti niat genosida, di mana Kantor Jaksa Penuntut ICC dilaporkan tengah menyiapkan draf surat perintah penangkapan terhadap Ben-Gvir.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author