Bank Indonesia Laporkan Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh 4,4 Persen Triwulan II 2026
Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 453,4 miliar pada triwulan II 2026, tumbuh 4,4 persen secara tahunan, menurut Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Selasa (18/8/2026).
ULN ini didorong oleh peningkatan utang publik, termasuk pemerintah dan bank sentral, sementara utang swasta mengalami kontraksi. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 30,6 persen, didominasi oleh utang jangka panjang sebesar 82,1 persen.
Ramdan menjelaskan, "Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah."
Bank Indonesia dan pemerintah bersama-sama memantau ULN untuk menjaga struktur yang sehat dan meminimalkan risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional. "Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ujar Ramdan.
Posisi ULN pemerintah tercatat US$ 216,3 miliar dengan pertumbuhan 2,9 persen, lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh aliran masuk Surat Berharga Negara yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Ramdan menegaskan, "Pemerintah tetap berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal."
ULN pemerintah digunakan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan sosial (22 persen), administrasi pemerintahan dan pertahanan (20,6 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,5 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).
Ramdan memastikan posisi ULN pemerintah relatif aman karena hampir seluruhnya berupa utang jangka panjang. Sementara itu, ULN bank sentral meningkat akibat kenaikan kepemilikan non-residen terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Utang swasta mengalami kontraksi 0,6 persen menjadi US$ 194,6 miliar, lebih rendah dari kontraksi 1,3 persen pada triwulan I 2026. Kontraksi ini didorong oleh lembaga keuangan yang turun 3,4 persen.
ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, penyediaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian yang mencapai 79,4 persen dari total ULN swasta. Sebagian besar utang swasta adalah utang jangka panjang dengan porsi 75,7 persen.