Turkiye Gagalkan Rencana Israel Gulingkan Pemerintah Iran

Share

Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menjadi faktor utama yang menggagalkan rencana rahasia Israel dan Amerika Serikat untuk mendorong pergantian rezim di Iran. Laporan The Telegraph pada Minggu, 16 Agustus 2026, mengungkapkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memaparkan skenario tersebut kepada Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Februari lalu.

Rencana yang disusun bersama badan intelijen Mossad dan dibahas dengan CIA tersebut melibatkan pengiriman ribuan pejuang Kurdi dari wilayah Kurdistan Irak menuju Iran barat. Pasukan Kurdi yang didukung serangan udara AS diproyeksikan memicu pemberontakan untuk menjatuhkan pemerintah Iran.

Namun, Erdogan menentang keras gagasan tersebut hingga akhirnya Washington dan Israel membatalkan operasi rahasia itu. Penolakan Turkiye didasari kekhawatiran terhadap gerakan separatis Kurdi, mengingat Ankara telah berkonflik selama lebih dari empat dekade dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Laporan The Telegraph mencatat Erdogan menegaskan posisi Turkiye kepada Trump di tengah kekhawatiran terhadap penguatan kelompok Kurdi di perbatasan timur.

"Turkiye tidak akan menerima munculnya kemerdekaan Kurdi di kawasan mana pun," kata Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dilansir dari The Telegraph.

Sejumlah pejabat AS dilaporkan meragukan kelayakan rencana invasi darat oleh pasukan Kurdi karena dinilai tidak realistis. Trump sendiri menggambarkan skenario perubahan rezim bentukan Netanyahu tersebut sebagai gagasan yang tidak masuk akal saat menerima pengarahan dari Direktur CIA John Ratcliffe.

Meskipun demikian, Trump tetap melakukan komunikasi dengan para pemimpin Kurdi pada 1 Maret. Pada periode yang sama, Israel melancarkan serangan udara ke fasilitas militer, sistem rudal, kantor polisi, dan lokasi terkait Basij di Iran barat untuk menyiapkan jalur operasi.

Koalisi enam faksi Kurdi Iran sempat bersiap bergerak pada 18 Maret, tetapi batal karena tidak mendapat persetujuan akhir dari Trump. Kegagalan skenario militer ini berdampak pada internal intelijen Israel.

"Dua pejabat senior yang ikut menyusun skenario perubahan rezim telah dicopot dari jabatannya," kata Direktur Mossad Roman Gofman.

Dalam pertemuan lanjutan pada 28 Juli, Netanyahu kembali gagal meyakinkan Trump. Presiden AS tersebut akhirnya memilih melanjutkan langkah tekanan ekonomi terhadap Iran ketimbang mendukung operasi militer.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Iran Israel Turkiye
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author