Spesialis Gizi Peringatkan Bahaya Diet Makanan Instan Bagi Kesehatan
Konsumsi makanan instan untuk menurunkan berat badan berisiko mengikis massa otot serta memicu gangguan kesehatan serius seperti hipertensi dan kerusakan ginjal. Peringatan tersebut disampaikan oleh spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, Kamis (13/8/2026), dilansir dari Detik Health.
Penggunaan pangan instan sebagai menu harian memang dapat merampingkan angka pada timbangan secara cepat. Namun, dr Yaze menegaskan bahwa penurunan berat badan tersebut tidak berasal dari pembakaran lemak tubuh.
"Jawabannya ya bisa. Dengan makan instan, kalau cuma sekadar turun berat badan saja. Tapi kan yang kita mau yang turun itu kan lemak, bukan ototnya juga," kata dr Igus Ulfa Yaze, SpGK.
Selain mengurangi massa otot, produk instan umumnya memiliki kandungan gizi yang tidak seimbang karena didominasi oleh kadar gula, lemak jenuh, dan natrium yang tinggi. Asupan garam yang berlebihan secara konsisten akan berdampak langsung pada kondisi pembuluh darah.
"Jadi hampir setiap hari makan makanan yang instan sudah pasti bisa meningkatkan tensi ya, karena banyak natriumnya tadi," jelas dr Yaze.
Tingginya kadar natrium dalam tubuh memicu penumpukan cairan pada saluran darah, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah secara signifikan.
"Natrium kalau misalnya kebanyakan di tubuh, itu terjadi retensi cairan. Cairannya terjebak di pembuluh darah, akhirnya tensinya jadi tinggi," sambung dia.
Efek buruk dari pola makan ini akan terus terakumulasi apabila kebiasaan mengonsumsi makanan instan terus berlanjut dalam jangka waktu beberapa minggu hingga bulan. Kondisi ini memaksa organ vital bekerja melebihi kapasitas normalnya.
"Lama-kelamaan ginjal capek dong ngebantu untuk menyaring kelebihan natrium di tubuh. Ginjalnya kerjanya jadi lebih berat, bahkan bisa jadi gangguan kalau terlalu lama atau terlalu sering makan makanan yang instan," tegasnya.