Australia dan Belanda Ribut di PBB soal Kemerdekaan RI
Keributan terjadi dalam sidang Dewan Keamanan PBB di New York saat membahas status Republik Indonesia, setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan namun pengakuan dunia berjalan lambat. Pada 31 Juli 1947, agenda sidang memicu perdebatan antara wakil Australia dan Belanda terkait usul mengundang wakil RI ke PBB.
Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia, termasuk saat wakil Belanda Van Kleffens membantah usulan Australia yang didukung India, Belgia, dan Uni Soviet. Van Kleffens menyatakan bahwa RI belum pernah diakui sebagai negara berdaulat oleh siapa pun.
"Tidak ada alasan untuk meminta kesatuan politis semacam itu untuk duduk di kursi Dewan Keamanan karena RI belum pernah diakui sebagai negara yang berdaulat oleh siapa pun," ujar Van Kleffens, dikutip dari Wacana, Juornal of the Humanities of Indonesia volume 9 yang ditulis oleh Suranta Abd Rahman.
Menanggapi, Kolonel Hudgson dari Australia yang mewakili Indonesia mengajukan dua argumen. Ia menyebut Persetujuan Belanda-Indonesia tanggal 15 November 1946 yang ditandatangani oleh Belanda dan RI, serta pengakuan Pemerintah RI oleh Belanda sebagai pemerintah de facto di Jawa, Madura, dan Sumatra.
Hudgson juga menyebut Pemerintah RI telah mendapat pengakuan de facto dari beberapa negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, India, dan Australia. Ia menambahkan negara-negara Arab seperti Mesir, Syria, dan Irak memberikan pengakuan diplomatis serta persetujuan persahabatan.
Berdasarkan upaya negara berdaulat itu, masalah RI diajukan ke Dewan Keamanan PBB pada Agustus 1947 hingga keluar resolusi gencatan senjata yang disebut sebagai kemenangan diplomasi bagi Indonesia. Pada Agustus 1947 pula, PBB mengeluarkan resolusi pembentukan Komisi Jasa Baik (Good Office Committee).
Wakil Syria sebagai ketua sidang Dewan Keamanan PBB menetapkan suara 8 setuju lawan 3 tidak setuju untuk pembentukan Komisi Jasa Baik.
Negara yang setuju ialah Australia, Brasil, Cina, Kolumbia, Polandia, Syria, Uni Soviet, dan Amerika Serikat. Sementara yang menolak adalah Belgia, Prancis, dan Inggris.
Belanda menentang pengiriman komisi untuk menyelidiki kekejaman tentara Belanda dan Sekutu di Indonesia. Belanda juga mengharapkan komisi tidak menjadi penengah dalam perundingan dengan RI karena perundingan tersebut dinilai sebagai urusan rumah tangga Belanda.
Indonesia akhirnya diakui masuk PBB pada September 1950.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK mengatakan multivitamin tetap penting saat diet. Ia menilai saat berat badan diturunkan, lemak tubuh berkurang sehingga kebutuhan vitamin dan mineral tetap perlu diperhatikan.
"Kalau multivitamin, tetap penting. Karena kalau kita mau turun dari badan, biasanya ada lemak yang mau kita buang," ujar dr Yaze.
Ia menjelaskan terdapat vitamin larut lemak yang bisa berkurang saat lemak tubuh berkurang selama penurunan berat badan. "Lemak yang kita buang itu biasanya ada beberapa vitamin larut lemak yang ikutan hilang. Seperti A, D, E sama K," ujar dr Yaze.
Karena itu, dr Yaze menilai suplemen multivitamin dapat menjadi pendamping selama menjalani diet agar tidak terjadi kekurangan mikronutrien dari vitamin dan mineral. "Jadi biasanya didampingi dengan multivitamin itu lebih bagus. Supaya tidak terjadi kekurangan mikronutrien tadi dari vitamin dan mineral," tutup dr Yaze.