Iran Persiapkan Perang Lebih Besar Usai Sepakati MoU dengan AS
Kelompok garis keras Iran dilaporkan memanfaatkan dua bulan terakhir pascapenandatanganan nota kesepahaman pada 17 Juni lalu untuk mempersiapkan konfrontasi militer yang lebih luas menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya. Strategi Teheran tersebut mencakup penguatan kendali Korps Garda Revolusi Islam atas militer reguler, percepatan produksi rudal dan drone, serta peningkatkan koordinasi bersama milisi sekutu di Yaman dan Irak untuk meluaskan medan konflik. Persiapan intensif ini terungkap melalui komunikasi intelijen yang disadap serta keterangan pejabat Iran dan Arab pada Minggu, 17 Agustus 2026, di tengah tersendatnya perundingan damai kedua negara.
Analis pertahanan asal Teheran yang dekat dengan pemerintah mengonfirmasi bahwa strategi militer negaranya menerapkan eskalasi bertahap untuk melemahkan posisi lawan sebelum pertikaian terbuka meluas.
"Ada pandangan luas di Iran bahwa perang sesungguhnya belum benar-benar dimulai," kata Mohammad Hassan Sangtarash, analis pertahanan asal Teheran yang dekat dengan pemerintah Iran. Konflik makin memanas setelah kelompok proksi menembakkan rudal balistik ke basis pasukan Amerika Serikat di Yordania dan melancarkan gangguan pelayaran di Selat Hormuz serta Laut Merah.
Di pihak lain, Presiden Donald Trump sempat meragukan kapasitas tempur Teheran pascaserangan beruntun yang dilancarkan Washington bersama Israel dalam beberapa bulan terakhir. "Sebagian besar pabrik drone telah dilumpuhkan, sebagian besar landasan peluncuran telah dilumpuhkan, dan sebagian besar area produksi rudal telah dilumpuhkan," kata Trump dalam wawancara dengan NBC News pada saat itu.
Trump memperkirakan daya tempur musuhnya telah merosot tajam akibat serangan udara intensif tersebut. "Saya perkirakan dalam persentase, mungkin sekitar 21-22 persen dari rudal mereka. Itu jumlah rudal yang banyak, tetapi tidak sebanyak saat kita pertama kali menyerang," klaim Presiden AS tersebut. Tudingan penurunan kapasitas senjata militer itu langsung dibantah oleh petinggi angkatan bersenjata Teheran yang menegaskan kesiapan armada tempurnya.
"Lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone Iran masih utuh dan siap," ujar Wakil Komandan Militer Iran untuk Urusan Eksekutif, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh dalam pernyataannya seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA dan Middle East Monitor, Jumat (14/8/2026).
Sheikh menambahkan bahwa armada pesawat tanpa awak milik negaranya tetap menjadi ancaman utama bagi lawan. "mimpi buruk bagi musuh," kata Sheikh seperti dikutip The Middle East Monitor. Pemerintah AS tetap menilai operasi militer bersama sekutunya telah memberikan pukulan telak terhadap jaringan pertahanan lawan.
"Operasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan kerusakan yang sangat besar," kata Huckabee dalam wawancara dengan Newsmax pada Selasa (12/8).
Sementara itu, pejabat Gedung Putih menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah menekan harga energi dunia di samping membatasi program nuklir Teheran. "Iu menjadi tujuan nomor satu — menjaga harga minyak dan gas tetap murah bagi warga Amerika di seluruh penjuru negara kita," kata Wapres AS tersebut.
Ia menekankan prioritas penanganan keamanan kawasan tetap berjalan beriringan dengan stabilitas ekonomi domestik. "Kemudian, tentu saja, tujuan nomor dua adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," cetusnya.
Di sisi lain, perwakilan diplomasi Teheran mengindikasikan bahwa proses negosiasi yang berlangsung tidak menutup kemungkinan terjadinya eskalasi militer lanjutan. "Bangsa Iran masih punya banyak urusan yang belum selesai dengan Trump. Iran siap menghadapi konfrontasi besar," kata Mehdi Mohammadi, penasihat strategis perunding utama Iran.