Iran Tegaskan Kesiapan Hadapi Perang Ekonomi Amerika Serikat

Share

Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya untuk mengatasi tekanan perang ekonomi yang dilancarkan Amerika Serikat di Teheran pada Senin (17/8/2026), meskipun lonjakan inflasi dan penurunan pendapatan minyak terus memperburuk kondisi perekonomian domestik negara tersebut. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref menegaskan bahwa Washington beralih menggunakan instrumen ekonomi setelah mengklaim kegagalan pada opsi militer. "Musuh sekarang ingin mengimbangi kekalahannya di bidang militer melalui perang ekonomi dan pemerintah harus bersikap tegas terhadap pendekatan ini dengan perencanaan yang tepat," kata Mohammad Reza Aref, Wakil Presiden Pertama Iran.

Aref menambahkan bahwa persatuan nasional menjadi kunci utama untuk memenangkan konfrontasi ini, serta menginstruksikan pengawasan ketat terhadap penimbunan barang dan permainan harga pasar.

Kondisi riil perekonomian negara tersebut mengalami tekanan berat akibat anjloknya ekspor energi dan hancurnya sejumlah fasilitas produksi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa kondisi perekonomian nasional makin terpuruk setelah pendapatan sektor minyak anjlok tajam dan sejumlah fasilitas industri mengalami kerusakan parah akibat konflik militer.

Penurunan pendapatan minyak mendadak ini disertai hilangnya potensi penerimaan pajak domestik dari sektor manufaktur, sehingga pemerintah terpaksa mengalokasikan bantuan darurat untuk pemulihan fasilitas produksi. Krisis ekonomi yang melanda Teheran merupakan dampak langsung dari eskalasi militer sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang infrastruktur strategis Iran.

Upaya stabilitas ekonomi makin berat setelah proses perundingan lanjutan pascagencatan senjata 18 Juni tertahan akibat perselisihan hak navigasi di Selat Hormuz. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklaim bahwa kebijakan blokade ekonomi dan sanksi berat telah mendorong inflasi Iran melampaui angka tiga digit serta menekan nilai mata uangnya. Data pasokan menunjukkan ekspor minyak Iran di Pulau Kharg turun mendekati nol pada Juli lalu, dengan cadangan minyak terapung merosot dari 180 juta barel menjadi sekitar 60 juta barel.

Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Iran bakal menyusut hingga 5,4 persen tahun ini, sementara inflasi tahunan melambung di atas 80 persen.

Menghadapi krisis tersebut, pemerintah Iran menjalankan instrumen darurat seperti pemadaman listrik industri bergilir, pengalihan jadwal kerja, hingga pencetakan uang untuk gaji pegawai negeri. Teheran juga menyalurkan subsidi mata uang asing senilai 3,5 miliar dollar AS untuk menjamin impor bahan pokok serta menyediakan program kredit bahan pokok bagi masyarakat kurang mampu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author