IHSG Melemah Pasca Bank Indonesia Naikkan BI-Rate

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia melemah secara signifikan pasca pengumuman kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada Rabu, 20 Mei 2026.

Data perdagangan di BEI pukul 15.10 WIB pada hari ini menunjukkan IHSG tercatat melemah 76,22 poin atau 1,20 persen ke posisi 6.294,46.

Aktivitas transaksi di pasar modal mencatatkan frekuensi perdagangan saham sebanyak 2.189.469 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,97 miliar lembar saham senilai Rp18,64 triliun. Dalam pergerakan tersebut, sebanyak 166 saham naik, 539 saham menurun, dan 111 tidak bergerak nilainya.

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 pada hari ini, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps ke level 5,25 persen. Suku bunga deposit facility juga diputuskan naik 50 bps ke level 4,25 persen, begitu pula suku bunga lending facility diputuskan naik 50 bps ke level 6 persen.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan pemerintah," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Pihak bank sentral menegaskan bahwa kebijakan moneter yang diambil saat ini berorientasi pada perlindungan ketahanan ekonomi nasional dari guncangan luar negeri.

"Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada 2026 pada stabilitas (pro-stability) untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak global," kata Perry.

Merespons dinamika pasar tersebut, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai fluktuasi indeks saham domestik masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

“Jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing mereda pasca kenaikan suku bunga, peluang technical rebound tetap terbuka terutama pada saham big caps perbankan,” ujar Reydi saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Rabu.

Kondisi makroekonomi dalam negeri diproyeksikan mendapat dampak positif dari intervensi moneter ini, meskipun terdapat konsekuensi pada laju sektor riil.

“Namun, konsekuensinya pertumbuhan kredit, konsumsi, dan ekspansi bisnis berpotensi sedikit melambat karena biaya pinjaman menjadi lebih tinggi,” ujar Reydi.

Penyesuaian suku bunga acuan ini juga diakui membawa dampak langsung terhadap penilaian risiko di lantai bursa untuk jangka pendek.

“Sektor yang sensitif terhadap bunga seperti properti, teknologi, dan consumer non-primer berpotensi lebih tertekan,” ujar Reydi.

Kendati demikian, kebijakan agresif dari bank sentral dinilai dapat memberikan kepastian bagi pergerakan dana investor internasional.

“Pasar melihat BI cukup agresif merespons tekanan eksternal dan volatilitas nilai tukar, sehingga dapat membantu meredam capital outflow lebih lanjut,” ujar Reydi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author