Dokter Sutapa Sen Ungkap Peluang Menyusui Ibu Hamil IVF
Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) sering kali menimbulkan kecemasan bagi para ibu menjelang persalinan. Dilansir dari HaiBunda, kekhawatiran utama muncul terkait potensi kesulitan menyusui pascamelahirkan.
Terapi hormon selama menjalani program IVF kerap dicurigai dapat mengganggu kelancaran produksi ASI. Namun, prasangka tersebut tidak memiliki dasar medis yang kuat.
Dokter spesialis IVF, Dr. Sutapa Sen, menegaskan bahwa metode pembuahan tidak berpengaruh langsung terhadap keberhasilan proses menyusui. Ibu yang hamil melalui jalur IVF tetap mampu memproduksi ASI dengan baik.
"Cara bayi dikandung tidak menentukan apakah seorang ibu akan mampu menyusui," kata Dr. Sen, dikutip dari Times of India.
Dr. Sen menjelaskan bahwa konsumsi obat-obatan program IVF sudah dihentikan sejak awal masa kehamilan. Kondisi ini membuat zat kimia medis tersebut tidak lagi aktif ketika bayi lahir.
Jaringan payudara dan kelenjar penghasil ASI dipastikan tidak mengalami kerusakan akibat terapi hormon masa lalu. Produksi ASI murni dipicu oleh hormon prolaktin dan oksitosin sebagai respons isapan bayi.
Faktor yang Memengaruhi Rendahnya Angka ASI Eksklusif
Meski tidak menghambat secara biologis, studi dalam jurnal Acta Paediatrica menunjukkan angka pemberian ASI eksklusif pada ibu IVF memang tercatat lebih rendah. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor eksternal.
Faktor dominan meliputi usia ibu yang lebih matang, prosedur operasi caesar, hingga tingginya tingkat kecemasan. Persalinan caesar sebelum kontraksi alami dapat membuat stimulasi ASI sedikit terlambat.
Keterlambatan respons awal ini sering kali memicu kecemasan berlebih pada ibu. Akibatnya, pemberian susu formula dilakukan lebih cepat karena khawatir asupan bayi tidak mencukupi.
Penulis utama penelitian dari Monash University, Profesor Jane Fisher, menekankan pentingnya peran tenaga medis dalam membimbing para ibu. Pendampingan ekstra sangat dibutuhkan untuk membangun rasa percaya diri.
"Kami berharap data baru ini akan mendorong bidan, konsultan laktasi, dan dokter untuk memberikan bantuan tambahan kepada wanita dalam situasi ini guna membantu mereka memulai dan mempertahankan pemberian ASI," ujar Profesor Fisher, dikutip dari MedicalXpress.
Riset mencatat lebih dari 95 persen ibu berkeinginan memberikan ASI selama enam bulan. Namun, tantangan di masa awal persalinan membuat tingkat keberhasilan menyusui eksklusif menurun saat keluar dari rumah sakit hingga empat bulan pertama.