Pesan 8 Presiden dan Seni Anak Bangsa Warnai Upacara HUT ke-81 RI

Share

Rangkaian Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026), diwarnai dengan penayangan pesan kebangsaan dari delapan presiden Indonesia serta persembahan seni anak bangsa yang penuh haru. Tayangan video pidato para pemimpin negara tersebut diputar usai penampilan lagu Hari Merdeka oleh Sekolah Rakyat, Orkestra, dan Paduan Suara Nasional Gita Bahana Nusantara. Tayangan itu merangkum penegasan nilai dasar Pancasila, persatuan, hingga kemajemukan dari masa ke masa. Presiden pertama RI Soekarno menegaskan posisi Pancasila sebagai fondasi utama perjuangan bangsa dalam cuplikan pidatonya.

"Bahwa Pancasila itu adalah benar-benar satu dasar yang dinamis, satu dasar yang benar-benar dapat menghimpun segenap tenaga rakyat Indonesia," ujar Soekarno.

Sementara itu, Presiden kedua RI Soeharto menyoroti pilar kemanusiaan yang terintegrasi di dalam Pancasila. "Paham kita bersumber pada sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang diresapi oleh keempat sila lainnya oleh Pancasila itu," kata Soeharto.

Dalam kesempatan berikutnya, Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie menyampaikan optimisme terhadap keragaman bangsa. "Saya yakin meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat, dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras, kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang," ujar Habibie.

Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur turut menekankan pentingnya toleransi terhadap perbedaan pandangan di tengah masyarakat. "Dan itu semua timbul dari sikap kita menghargai kemajemukan, menghargai perbedaan pendapat, ini harus kita pegang teguh," kata Gus Dur. Adapun Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri mengibaratkan Pancasila sebagai wadah kebersamaan seluruh rakyat.

"Pancasila rumah kita, rumah untuk kita semua. Nilai dasar Indonesia, rumah kita selamanya, untuk semua keluarga menyatu, untuk semua saling membagi," ujar Megawati.

Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menggarisbawahi keharmonisan bangsa yang majemuk sebagai bukti kepada dunia. "Kita bisa membuktikan kepada dunia, bahwa bangsa yang majemuk seperti kita juga dapat menjadi bangsa yang rukun," kata Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden ketujuh RI Joko Widodo menekankan pentingnya semangat kebersamaan dan kepedulian sosial antarwarga.

"Solidaritas sosial dan kepedulian tumbuh di mana-mana, saling menjaga, saling membantu antar-anak bangsa dari berbagai suku, berbagai agama, maupun berbagai kelompok bergerak bersama-sama," ujar Joko Widodo.

Rangkaian tayangan pesan kebangsaan tersebut ditutup oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan kembali peran Pancasila dalam menjaga keutuhan bangsa. "Pancasila telah mempersatukan bangsa Indonesia selama 81 tahun. Kita buktikan hari ini kita masih menjadi bangsa yang utuh, bangsa yang bersatu, bangsa yang kuat karena persatuannya, bangsa yang makmur karena keadilannya, bangsa yang besar karena kemanusiaannya," ujar Prabowo.

Prabowo lantas menyerukan ajakan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat dan adil. "Mari kita wujudkan Indonesia yang adil, makmur, berdaulat dan bermartabat. Merdeka!" kata Prabowo.

Di sisi lain, Ketua DPR RI Puan Maharani yang hadir mengenakan kebaya modern serta selendang tenun khas NTT mengajak seluruh pihak untuk terus merawat persatuan demi kepentingan bersama. “Maka sekali lagi, kebijakan-kebijakan Negara harus dapat melindungi, menyejahterakan, dan mencerdaskan rakyat,” kata Puan Maharani. Puan juga menambahkan bahwa tema peringatan tahun ini mesti dijadikan acuan peningkatan standar pembangunan nasional.

"Ketika seluruh anak bangsa menjunjung tinggi semangat gotong royong, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan, maka pembangunan tidak hanya berjalan lebih efektif, akan tetapi juga mampu menghadirkan manfaat yang besar dan adil bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Puan Maharani.

Suasana haru turut melingkupi Istana Merdeka saat pertunjukan seni diisi dengan penuturan pesan keberagaman oleh narator Moza Pramita. "Indonesia rumah bagi jutaan cerita dari Sabang sampai Merauke dari laut sawah pegunungan budaya adat istiadat dan keyakinan keberagaman menjadi kekuatan yang menyatukan di negeri ini setiap Insan memiliki nilai dan martabat yang setara semua berkarya berkontribusi dan menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa," ujar Moza Pramita. Moza menekankan bahwa peringatan kemerdekaan erat kaitannya dengan perlakuan adil antarmanusia.

"Semangat kemanusiaan hidup dalam gotong royong kepedulian dan rasa hormat terhadap sesama karena hari ini perayaan kemerdekaan bukan hanya tentang kebebasan tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan satu sama lain dengan adil dan beradab," katanya.

Pertunjukan karya anak bangsa tersebut ditutup secara khidmat melalui lagu Tanah Airku yang dibawakan mengiringi pembawaan bendera oleh atlet peraih emas Olimpiade Paris 2024, Veddriq Leonardo. "Inilah Indonesia berbeda-beda namun tetap satu bersatu dalam kemanusiaan melangkah menuju masa depan inilah sebuah persembahan istimewa dari anak bangsa," ujar Moza Pramita.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author