Luca Marini Usulkan Penataan Ulang Kalender Balap MotoGP 2026
Pembalap Honda HRC Luca Marini mengusulkan pemadatan jadwal balapan MotoGP 2026 agar jeda musim dingin dapat diperpanjang. Langkah tersebut dinilai penting demi memberikan waktu pemulihan fisik dan persiapan musim baru yang memadai bagi para pebalap.
Musim kompetisi 2026 dijadwalkan mencakup 22 seri yang berlangsung selama sembilan bulan hingga penutupan di Valencia pada 29 November. Namun, kepastian penyelenggaraan GP Qatar pada November mendatang masih belum dapat dipastikan akibat situasi konflik di Timur Tengah, sehingga jumlah seri berpeluang berkurang menjadi 21 balapan.
Hanya berjarak dua hari setelah seri pamungkas di Valencia, seluruh pembalap dijadwalkan langsung melakoni tes persiapan musim 2027 pada 1 Desember. Rangkaian agenda berlanjut ke Malaysia pada akhir Januari untuk tes pengujian IRTA, dilanjutkan pengujian di Thailand, serta peluncuran resmi kejuaraan di Brasil.
Marini menegaskan bahwa persoalan utama terletak pada jarak antar-seri yang terlalu ketat, bukan sekadar jumlah balapan sepanjang musim.
"Jadwal balapan sepanjang tahun ini menurutku kurang ideal. Harusnya jadwal balapannya dimampetin lagi, biar kita punya waktu libur musim dingin yang lebih panjang," kata Luca Marini, melansir Speedweek.
Pembalap asal Italia tersebut menilai masa istirahat yang sangat terbatas menghambat proses pemulihan cedera lama dan pelaksanaan program fisioterapi secara optimal.
"Faktanya, sekarang kita benar-benar gak punya waktu. Nggak sempat buat pemulihan, dan yang paling parah, gak ada waktu sama sekali buat persiapan matang menghadapi musim depan," lanjutnya.
Kebutuhan menjaga kebugaran secara konstan memaksa pembalap terus berlatih sepanjang tahun tanpa memiliki waktu jeda total untuk memulihkan energi.
"Aku butuh seluruh energiku biar selalu siap. Tapi jujur, aku butuh waktu lebih buat nyembuhin sisa-sisa cedera lama. Aku juga mau fisikku makin baik dari musim ke musim, tapi itu semua butuh waktu untuk menjalani program fisioterapi yang khusus," pungkasnya.
"Menurut saya, jadwal sepanjang tahun ini tidak ideal. Saya pikir kita seharusnya menjadwalkan balapan lebih berdekatan dan sebagai gantinya mencoba membuat jeda yang lebih panjang pada musim dingin," kata Marini kepada SPEEDWEEK.com.
Di sisi lain, Marini mengaku menikmati suasana kompetisi selama musim berjalan, namun menekankan pentingnya keseimbangan waktu istirahat antar-musim.
"Di satu sisi, saya menikmati waktu di paddock; selama musim balapan, semuanya sempurna karena selalu berada di sana. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini jika itu berarti kami memiliki jeda musim dingin yang benar-benar cukup," ujarnya.
Ketiadaan jeda ideal di luar musim balap juga dinilai membatasi ruang bagi para pebalap untuk meningkatkan performa pribadi secara berkelanjutan.
"Faktanya, saat ini kami sama sekali tidak punya waktu. Tidak ada waktu untuk benar-benar memulihkan diri, dan yang lebih penting, tidak ada waktu untuk mempersiapkan diri secara khusus menghadapi musim berikutnya; tidak ada waktu untuk terus berkembang," tutur Marini.
Rutinitas latihan yang berlangsung tanpa henti dinilai menyulitkan pembalap untuk melakukan penanganan medis khusus terhadap cedera fisik.
"Dengan kalender saat ini, tidak ada jeda sama sekali. Saya berlatih sepanjang tahun. Dengan jadwal saat ini, tidak mungkin untuk tidak melakukan apa pun bahkan untuk sesaat," kata Marini.
Kebutuhan energi yang tinggi selama kompetisi membuat alokasi waktu khusus untuk program pemulihan fisik menjadi sangat mendesak bagi Marini.
"Saya membutuhkan seluruh energi saya untuk siap bertanding, tetapi saya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk menangani cedera lama dengan lebih menyeluruh, misalnya. Saya juga ingin meningkatkan kondisi fisik dari musim ke musim, tetapi itu membutuhkan waktu untuk program fisioterapi khusus," kata Marini.
"Bagi saya, jadwal sepanjang tahun ini tidak ideal. Menurut saya, sebaiknya kita menjadwalkan balapan agar lebih berdekatan dan mencoba menciptakan jeda waktu (libur) yang lebih panjang selama musim dingin," ujar rider Honda Castrol itu.
Kehadiran di paddock diakui memberikan kepuasan profesional, namun waktu jeda antar-musim tetap dianggap sebagai aspek yang tidak bisa diabaikan.
"Saya menikmati waktu saat berada di paddock. Selama musim balapan, semuanya terasa sempurna karena kita selalu berada di sana. Bahkan saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini, asalkan sebagai gantinya kita benar-benar mendapatkan waktu istirahat selama musim dingin," kata Marini.
Pengembangan kemampuan pebalap secara menyeluruh membutuhkan alokasi waktu persiapan yang tidak bisa dipenuhi dalam kalender kompetisi saat ini.
"Faktanya, sekarang kita tidak punya waktu sama sekali. Bukan hanya untuk benar-benar memulihkan kondisi tubuh, tetapi yang lebih penting, kita juga tidak punya waktu untuk mempersiapkan diri secara khusus menghadapi musim berikutnya. Tidak ada waktu untuk terus meningkatkan kemampuan kita," jelasnya.
Kondisi fisik yang prima menjadi syarat mutlak dalam persaingan balap, namun jadwal padat menutup peluang istirahat total.
"Dengan kalender saat ini, praktis tidak ada waktu istirahat sama sekali. Saya berlatih sepanjang tahun. Dengan jadwal yang ada sekarang, mustahil untuk sekadar beristirahat total barang sejenak.
Saya membutuhkan seluruh energi saya untuk tetap siap. Tetapi saya ingin memiliki lebih banyak waktu, misalnya untuk benar-benar memulihkan cedera lama. Saya juga ingin meningkatkan kondisi fisik saya dari satu musim ke musim berikutnya.
Untuk melakukan itu, dibutuhkan waktu untuk menjalani program fisioterapi yang lebih spesifik," pungkas adik legenda MotoGP Valentino Rossi itu.
Di sisi penyelenggaraan, penataan ulang jadwal secara masif dihadapkan pada kendala logistik serta risiko cedera pebalap. Pada musim 2026, tercatat delapan balapan digelar secara berurutan pekan demi pekan, di mana skema balapan yang terlalu rapat dinilai menyulitkan pencarian pebalap pengganti berkualitas jika terjadi cedera.