Pakta Pertahanan Makkah Timbulkan Kekhawatiran Perluasan Konflik
Aliansi pertahanan trilateral Mecca Joint Defence Agreement atau Pakta Pertahanan Makkah yang ditandatangani Arab Saudi, Pakistan, dan Turki pada Jumat (7/8/2026) memicu kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah. Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri menegaskan bahwa kesepakatan tersebut murni bertujuan defensif demi keamanan kawasan Teluk. Sorotan publik tertuju pada klausul pertahanan kolektif yang mirip Pasal 5 NATO, di mana agresi terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap ketiga anggota.
Pakta ini muncul di tengah eskalasi militer kawasan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Penjelasan mengenai posisi strategis aliansi tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan diplomatik Pakistan di Jakarta pada Jumat (14/8/2026) malam.
"Kami percaya ini adalah perkembangan yang sangat penting, tetapi ini untuk tujuan pertahanan," kata Zahid Hafeez Chaudhri, Duta Besar Pakistan untuk Indonesia.
Zahid menjelaskan bahwa Islamabad selalu berkomitmen menjaga stabilitas regional serta aktif mengambil peran sebagai fasilitator dan mediator perundingan. "Pakistan selalu bekerja untuk pertahanan, dan kami akan terus memainkan peran untuk keamanan kolektif kawasan kami," ujar Zahid Hafeez Chaudhri, Duta Besar Pakistan untuk Indonesia.
Diplomat senior tersebut menambahkan bahwa kerja sama seluruh negara kawasan sangat dibutuhkan dalam menghadapi dinamika keamanan saat ini. "Namun, kami juga meyakini betapa pentingnya bagi seluruh negara di kawasan ini untuk bekerja sama demi kepentingan masing-masing maupun kepentingan bersama," imbuh Zahid Hafeez Chaudhri, Duta Besar Pakistan untuk Indonesia.
Di tempat terpisah, pimpinan negara anggota aliansi mengonfirmasi adanya potensi perluasan keanggotaan pakta pertahanan ini ke negara Muslim lainnya seperti Mesir. "Erdogan sebut Mesir berpotensi masuk pakta pertahanan tiga negara," kata Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki seperti dilansir dari Al Jazeera pada Minggu (16/8/2026). Ankara menekankan bahwa kesepakatan ini tidak menargetkan negara tertentu seperti Iran, melainkan fokus pada pertahanan bersama dan pembukaan kembali jalur perdagangan strategis Selat Hormuz.
Sementara itu, perkembangan aliansi militer baru di kawasan Teluk ini mendapat tanggapan dari pengamat geopolitik di Jakarta.
“Aliansi Pakta Makkah sebagai instrumen geopolitik baru yang berpotensi mengubah peta kekuatan kawasan Teluk Persia, Timur Tengah dan sekitarnya,” kata Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia pada Jumat (14/8/2026) malam. Mahfuz menilai ketiga negara pendiri akan memprioritaskan konsolidasi internal terlebih dahulu sebelum menerima anggota baru. “Tetapi Arab Saudi, Turki, dan Pakistan akan sangat berhati-hati serta tidak terburu-buru membuka pintu bagi anggota baru,” kata Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia.
Ia menekankan pentingnya membangun fondasi aliansi yang kuat agar efisien sebagai instrumen perdamaian.
“Sebab, mereka harus memastikan aliansi tiga negara ini menjadi poros yang solid dan teruji terlebih dahulu sebagai instrumen geopolitik penghenti konflik," jelas Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia.