Rupiah Menguat ke Rp17.792 per Dolar AS pada Hari Kemerdekaan RI
Nilai tukar rupiah menguat 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.792 per dolar AS pada perdagangan Senin (17/8) pagi. Apresiasi mata uang Garuda ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS dan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pergerakan positif rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang kawasan Asia yang berada di zona hijau. Yuan China terapresiasi 0,06 persen, ringgit Malaysia naik 0,16 persen, yen Jepang melaju 0,15 persen, dolar Singapura menguat 0,04 persen, won Korea Selatan naik 0,02 persen, dan dolar Hong Kong terapresiasi 0,01 persen. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,18 persen.
Mata uang utama negara maju turut mencatatkan penguatan terhadap greenback. Euro Eropa menguat 0,08 persen, pound sterling Inggris naik 0,07 persen, dolar Australia menguat 0,11 persen, franc Swiss terapresiasi 0,17 persen, serta dolar Kanada naik 0,05 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan didorong oleh melesunya rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menekan indeks dolar AS.
"Pelemahan data tersebut memicu ekspektasi bahwa The Fed akan bernada dovish pada risalah pertemuan FOMC pekan ini," ujar Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures.
Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Sebelumnya pada penutupan perdagangan Jumat (14/8), rupiah di pasar spot menguat 0,22 persen atau 55 poin ke posisi Rp17.820 per dolar AS menurut data Refinitiv, sedangkan data Bloomberg mencatat penutupan di level Rp17.827 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga mencatat penguatan ke level Rp17.836 per dolar AS. Secara mingguan, nilai tukar rupiah membukukan kenaikan sekitar 0,36 persen hingga 0,39 persen.
Penguatan mata uang domestik dipengaruhi oleh rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS bulan Juli yang stagnan serta kenaikan inflasi konsumen yang melandai. Kondisi tersebut menekan peluang kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) pada September mendatang menjadi 35 persen, merosot dari posisi pekan sebelumnya yang mencapai 55 persen.
Pasar juga mencermati faktor internal, termasuk penyerahan Surat Presiden (Surpres) mengenai calon Gubernur Bank Indonesia dengan calon tunggal Destry Damayanti, serta agenda Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dan penyampaian RUU APBN 2027 di Kompleks Parlemen.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membenarkan pengiriman berkas calon pimpinan bank sentral tersebut ke parlemen.
“Kami mengirimkan beberapa surpres ke DPR, tadi kami sudah berkomunikasi dengan DPR dengan Ibu Puan dan Pak Dasco yang sudah secara resmi kami serahkan beberapa surpres yang pertama adalah mengenai calon Gubernur Bank Indonesia disertai dengan calon Deputi Gubernur Senior,” kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
Analis mata uang dan pendiri Traderindo.com Wahyu Laksono menilai pergerakan rupiah turut didukung oleh intervensi Bank Indonesia di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Sentimen risk-on di pasar global juga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk melakukan rebound secara teknikal setelah sebelumnya mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS," kata Wahyu Laksono, Analis Mata Uang dan Founder Traderindo.com.
Untuk perdagangan pekan selanjutnya, pasar diproyeksikan mencermati rilis data neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia, serta arah kebijakan suku bunga BI-Rate dan perkembangan harga komoditas global. Pasangan USD/IDR diperkirakan bergerak konsolidasi dalam kisaran Rp17.600 hingga Rp18.000 per dolar AS.