5 Makna dan Filosofi Tumpeng dalam Tradisi Kemerdekaan Indonesia
Published
·
4 Reads
Tumpeng menjadi salah satu tradisi yang hadir dalam perayaan 17 Agustus di berbagai tempat, termasuk di Istana Negara. Di balik nasi berbentuk kerucut ini, tersimpan filosofi, doa, simbol rasa syukur, sekaligus harapan untuk Indonesia yang erat dengan tradisi Jawa. Berikut adalah 5 fakta makna dan filosofinya:
- Filosofi Nasi Tumpeng — Bagi masyarakat Jawa, bentuk kerucut tumpeng melambangkan gunungan sebagai simbol awal dan akhir kehidupan serta hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Nama tumpeng berasal dari akronim 'Yen metu kudu mempeng' yang berarti manusia harus bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup.
- Makna Puncak Tumpeng — Puncak tumpeng yang lancip melambangkan puncak gunung tempat bersemayamnya dewa dan arwah leluhur, serta simbol hubungan manusia dengan Tuhan. Pemotongan tumpeng oleh presiden di Istana Negara dimaknai sebagai simbol rasa syukur dan wujud hubungan Tuhan, pemerintah, serta rakyat.
- Tumpeng Jadi Momen Kumpul Para Pemimpin Indonesia — Pemotongan tumpeng di Istana Negara menjadi momen berkumpulnya presiden, wakil presiden, mantan pejabat negara, hingga veteran untuk makan bersama. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus ungkapan syukur atas kemerdekaan Indonesia.
- Tradisi Potong Tumpeng di Istana — Tradisi potong tumpeng di Istana Negara berlangsung siang hari di ruangan khusus setelah upacara detik-detik Proklamasi. Sebelum tumpeng dipotong, Presiden RI dan tamu undangan berkumpul untuk berdoa bersama serta mendengarkan sambutan.
- Cara Memotong Tumpeng — Menurut tradisi Jawa, tumpeng tidak boleh dipotong pada bagian pucuknya karena melambangkan tempat bersemayam Sang Pencipta. Cara membagikan tumpeng yang benar adalah dengan menggali dari bagian bawah hingga tumpeng roboh secara alami.
Follow publika.id on Google News
Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author