SBY Apresiasi Blueprint Pembangunan APBN 2027 Rencana Presiden Prabowo
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mengapresiasi dan optimistis terhadap arah agenda pembangunan nasional tahun 2027 yang digagas Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
SBY menyampaikan pandangannya dari Rochester, Amerika Serikat, setelah memantau pidato tersebut dan mendapat laporan dari sejumlah rekannya di Tanah Air. Pemerintah mengusulkan belanja negara sebesar Rp4.097,2 triliun, pendapatan negara Rp3.426 triliun, serta defisit anggaran Rp671,2 triliun atau 2,4 persen dari produk domestik bruto dalam RAPBN 2027.
Melalui rekaman video di Rochester, Amerika Serikat, pada Minggu (16/8/2026), SBY memberikan penilaian atas rancangan pembangunan yang disiapkan pemerintah untuk tahun mendatang.
"Saya menilai bahwa berbicara tahun 2027, dan sekaligus menandai berlakunya APBN 2027, saya melihat bahwa arah blueprint dan agenda pembangunan yang akan dijalankan pemerintah tahun depan, menurut saya makin baik, makin jelas, dan memberi harapan baru bagi kita semuanya," kata SBY.
SBY mengungkapkan tantangan ekonomi nasional, baik dari dinamika geopolitik internasional maupun faktor internal, masih tergolong berat. Namun, ia menilai kebijakan yang dirancang pemerintah sudah tepat target untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, seperti menjaga pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta meningkatkan layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
"Saya tahu bahwa tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita masih cukup kuat, baik faktor domestik maupun faktor internal. Tetapi, apa yang digagas dan direncanakan oleh pemerintah menurut saya tepat," ujarnya.
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu kemudian mengomentari sasaran pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen pada 2027. SBY menilai target tersebut tergolong ambisius, tetapi berpotensi dicapai berdasarkan rekam jejak kepemimpinannya selama 10 tahun yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 persen.
"Menurut saya ini agenda yang sangat penting," katanya.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan 6 persen sebagai instrumen utama dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian pangan serta energi nasional. SBY menilai keberhasilan mencapai angka tersebut akan membawa dampak langsung terhadap kenaikan pendapatan per kapita masyarakat.
"Meskipun ambisius tidak berarti tidak bisa dicapai. Karena pengalaman saya memimpin dulu dengan 10 tahun rata-rata 6 persen. Memang, alhamdulillah kemiskinan turun secara tajam, pengangguran juga begitu, utang negara juga menurun drastis," ucapnya.
Tokoh militer purnawirawan itu menegaskan capaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi beriringan dengan peningkatan taraf hidup masyarakat luas.
"Enam persen andai kata bisa diraih oleh pemerintah Indonesia akan baik dampaknya bagi rakyat kita," kata SBY.
Demi menjaga kesinambungan program pembangunan, SBY mengingatkan jajaran pemerintah agar mengontrol kondisi keuangan negara dan rutin mengevaluasi efektivitas pelaksanaan kebijakan secara berkala.
"Dengan harapan baik ini saya hanya bisa berpesan ke teman-teman yang mengemban tugas di pemerintah agar tetap konsisten jaga betul kesehatan fiskal kita, kemudian implementasinya yang bagus jangan ada penyimpangan di sana-sini," pesannya.
SBY mengingatkan pula besarnya harapan masyarakat berjalan beriringan dengan beban tantangan yang kompleks di lapangan.
"Great hope, tetapi tantangan juga tidak ringan. Yang penting do the best pemimpin dan pemerintah kita agar yang disampaikan di hadapan rakyat melalui mimbar Senayan kemarin bisa diwujudkan dengan baik," kata SBY.
Ia mengakhiri pernyataannya dengan memberikan ucapan selamat serta penekanan atas kewajiban bersama dalam membangun bangsa.
"Sekali lagi, selamat hari kemerdekaan dan kita semua punya tanggung jawab sejarah, tanggung jawab moral untuk memastikan bangsa kita, negara kita, makin ke depan makin baik, makin maju, makin adil, dan makin sejahtera," katanya.
Di samping itu, SBY juga memberikan masukan khusus mengenai manajemen tata kelola anggaran negara bagi para pejabat pembantu presiden.
"Saya hanya ingin berpesan teman-teman yang mengemban tugas di pemerintahan agar tetap konsisten, jaga betul kesehatan fiskal kita, kemudian implementasinya yang bagus," kata SBY.
Ia meminta agar tata kelola program pembangunan terhindar dari berbagai bentuk penyelewengan di lapangan.
"Jangan ada penyimpangan di sana-sini. Setiap saat dilakukan evaluasi kebijakan. Karena begitulah manajemen pemerintahan," ujarnya.
Ia pun mengulangi penilaian positifnya atas kerangka besar pembangunan nasional yang dirancang oleh pemerintahan Prabowo Subianto.
"Saya tahu bahwa tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita masih cukup kuat, baik faktor domestik maupun faktor internasional. Tetapi apa yang digagas dan direncanakan oleh pemerintah menurut saya tepat, karena isu-isu itu memang menjadi harapan rakyat Indonesia," katanya.
SBY kembali menegaskan optimisme mengenai target pertumbuhan ekonomi 6 persen berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia pada periode 2004–2014.
"Karena pengalaman saya memimpin dulu dengan 10 tahun rata-rata 6% memang Alhamdulillah kemiskinan turun secara tajam, pengangguran juga begitu, utang negara juga menurun drastis. Tetapi GDP, termasuk income per capita meningkat secara tajam," tuturnya.
SBY berhalangan hadir langsung pada Sidang Tahunan MPR dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jakarta karena sedang menjalani pemeriksaan kesehatan berkala di Mayo Clinic, Rochester, Amerika Serikat, pascaoperasi prostat pada 2021.