Kemenbud Meluncurkan Aransemen Baru Lagu Hari Merdeka Karya Erwin Gutawa
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia meresmikan peluncuran aransemen baru lagu perjuangan Hari Merdeka karya Husein Mutahar yang digarap komposer Erwin Gutawa pada Minggu, 16 Agustus 2026. Peluncuran karya dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini ditayangkan serentak pukul 19.00 WIB melalui siaran langsung TVRI serta kanal YouTube resmi Kementerian Kebudayaan dan Indonesiana TV.
Gubahan terbaru lagu yang diciptakan pada 1946 tersebut memadukan instrumen musik orkestra dengan alat musik tradisional angklung hasil kolaborasi bersama Manshur Praditya. Peluncuran video aransemen audio-visual ini disaksikan ratusan kali dalam hitungan jam sejak disiarkan, serta melibatkan deretan penyanyi senior hingga generasi muda seperti Harvey Malaihollo, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata, Titik Hamzah, Ahmad Albar, Rita Butar Butar, Novia Bachmid, Judika, Ardhito Pramono, dan Shabrina Leanor.
Penggarapan proyek musik ini turut melibatkan Gita Gutawa sebagai produser bersama dan Meltho Sinyal sebagai penata vokal. Selain itu, jaringan penyiaran LPP TVRI akan memperluas jangkauan tayangan video tersebut ke 34 stasiun daerah di seluruh Indonesia serta melalui saluran TVRI World di 30 negara.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan apresiasinya atas penyelesaian gubahan lagu kebangsaan yang dinilainya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
"Iya, menurut saya sih luar biasa. Terima kasih banyak ini Mas Erwin dan seluruh penyanyi ini. Satu hasil kerja singkat, cepat, efisien, padat, gitu ya.
Luar biasa. Bangga, gitu ya. Jadi, grande-nya lagu itu dan semangat zamannya juga terlihat dari mulai pembuka dan juga di akhir.
Jadi, kita menjadikan lagu ini semakin relevan dan sesuai dengan semangat zamannya," kata Fadli Zon.
Inisiatif gubahan aransemen ulang ini dirancang agar lagu-lagu perjuangan nasional dapat kembali diminati dan terasa lebih dekat dengan generasi milenial maupun Gen Z.
"Waktu itu memang saya inisiasi perlunya satu aransemen ulang terhadap lagu-lagu kebangsaan kita, lagu-lagu nasional kita, supaya menjadi semakin relevan dengan generasi muda, khususnya dengan Gen Milenial, Gen Z," ujar Fadli Zon.
Mengenai sejarah penciptaannya, lagu ini lahir saat bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer pasca-proklamasi 1945.
"Saya terharu mendengar aransemen barunya," kata Fadli Zon.
Menbud menekankan bahwa aransemen baru ini diproyeksikan menjadi sarana untuk memperkenalkan kebudayaan nasional ke tingkat global.
"Musik Indonesia yang merdeka adalah yang membawa budaya kita semakin dikenal di seluruh dunia," ujar Fadli Zon.
Proses produksi aransemen lagu perjuangan ini diselesaikan dalam waktu relatif singkat, mencakup sesi pengambilan vokal hingga pengambilan gambar video klip.
"Iya, take vokal terus langsung video saat itu juga. Semuanya rampung hanya dalam waktu satu pekan sebelum tanggal peluncurannya," kata Novia Bachmid.
Novia juga membagikan pengalaman unik saat menjalani sesi rekaman yang diawasi langsung oleh komposer di studio.
"Tantangan sekali ketika kita rekaman diawasi langsung sama Mas Erwin, sampai ternyata pas saya mencoba untuk mengeluarkan suara-suara alam itu, ternyata mic-nya menyala. Jadi, akhirnya spontan dapat ide lagi dimasukkan di lagu 'Hari Merdeka'," kata Novia Bachmid.
Komposer Erwin Gutawa menjelaskan alasan mendasar di balik pertimbangan teknis untuk tetap mempertahankan ketukan dan irama asli lagu.
"Husein Mutahar memilih irama lagunya, bentuk melodinya memilih dengan irama marching, kayak derap langkah begitu, itu untuk mewakili semangat yang kuat karena waktu itu tahun 1946 kita memerlukan semangat tersebut," kata Erwin Gutawa.
Meskipun musisi memiliki ruang untuk berinterpretasi, elemen historis yang terkandung di dalam lagu nasional menurutnya tetap harus dijaga.
"Namun, biasanya dalam konteks lagu perjuangan atau lagu nasional, nilai-nilai serta rasa di dalamnya tidak boleh diganti dan jangan sampai hilang," kata Erwin Gutawa.
Erwin juga menegaskan pentingnya menampilkan ekspresi kegembiraan dari para pengisi acara untuk menggambarkan suasana perayaan.
"Saya ingin menampilkan suasana kegembiraan karena kita sedang merayakan sesuatu yang istimewa. Hal itu harus tergambar dari nyanyian dan mimik wajah mereka," kata Erwin Gutawa.
Penyanyi senior Harvey Malaihollo menambahkan bahwa pesan nasionalisme lagu perjuangan memerlukan kesatuan yang kuat antara unsur musik dan visual. Usai diskusi penyiaran musik, Direktur Utama Pengganti Antarwaktu LPP TVRI Tubagus Fiki Chikara Satari menyampaikan laporan mengenai perluasan jangkauan tayangan.
"Insya Allah Pak Menteri (aransemen baru lagu ‘Hari Kemerdekaan’) ini ditayangkan bukan hanya nasional tapi di 34 stasiun daerah dan juga TVRI World Pak, di 30 negara," kata Tubagus Fiki Chikara Satari.
Fiki menjelaskan bahwa TVRI menguasai banyak dokumen sejarah yang berharga bagi publik sehingga pihak penyiaran berencana memanfaatkan aset tersebut.
"TVRI ini mengawal fase republik ya, dari mulai mungkin dari setengahnya lah, banyak sekali yang sayang untuk bisa kita sampaikan ke publik," kata Tubagus Fiki Chikara Satari.
Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan rencana tindak lanjut pengembangan fasilitas dokumentasi sejarah di lingkungan TVRI.
"Insya Allah kita akan segera melangkah untuk menuju museum televisi di kantor TVRI," kata Tubagus Fiki Chikara Satari.
| Kategori | Nama Musisi / Tokoh |
|---|---|
| Komposer & Aransemen | Erwin Gutawa |
| Produser Bersama | Gita Gutawa |
| Penata Vokal | Meltho Sinyal |
| Penyanyi Senior | Harvey Malaihollo, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata, Titik Hamzah, Ahmad Albar, Rita Butar Butar |
| Penyanyi Muda/Populer | Novia Bachmid, Judika, Ardhito Pramono, Shabrina Leanor |